Pernah nggak sih merasa bingung setiap kali mau menulis di LinkedIn?
Takut terlihat terlalu pamer.
Tapi kalau terlalu sederhana, takut dianggap tidak punya kompetensi.
Akhirnya… tidak jadi menulis.
Atau menulis, tapi terasa kaku.
Kalimatnya benar, tapi tidak terasa hidup.
Saya pernah berada di fase itu.
Ingin membangun personal brand, tapi tidak ingin terlihat seperti sedang “jualan diri”.
Ingin terlihat profesional, tapi tetap autentik.
Masalahnya, kita sering salah paham tentang storytelling.
Kita mengira storytelling itu berarti kita harus menjadi tokoh utama cerita.
Padahal justru sebaliknya.
Setelah membaca buku Brand Storytelling: Put Customers at the Heart of Your Brand Story karya Miri Rodriguez, saya justru menemukan satu afirmasi terbalik yang terasa menampar:
Di situlah saya mulai memahami bahwa storytelling bukan tentang “aku”, tapi tentang “kita”.