Saya selalu geli setiap kali dengar orang bilang, “Ya namanya juga rezeki, udah ada yang ngatur.”
Kalimat itu benar sih. Tapi sering dipakai sebagai alasan untuk nggak melakukan apa-apa.
Padahal, kalau ditanya lebih jauh, orang yang sama ini biasanya juga percaya Mercury retrograde bikin proyeknya gagal, weton bikin bisnisnya seret, dan feng shui meja kerja yang salah bikin cuan kabur ke tetangga sebelah.
Lucu, kan?
Kita lebih mudah menyalahkan hal-hal yang di luar kendali kita, daripada jujur melihat ke dalam diri sendiri. Padahal, rezeki itu soal frekuensi yang bisa dijelaskan.
Coba bayangkan hidupmu seperti sebuah radio. Radio itu nggak menciptakan sinyal. Dia cuma menangkap frekuensi yang sedang dipancarkan di udara, lalu menyetelnya jadi suara yang bisa kamu dengar.
Kalau kamu memutar channel ke 101.0 FM, kamu nggak akan pernah dengar siaran dari 88.4 FM, meskipun sinyalnya sebenarnya sama-sama ada di udara, sama-sama bisa ditangkap. See?
Rezeki bekerja mirip seperti itu. Peluang, koneksi, ide, bahkan keberuntungan — semuanya sebenarnya sedang “mengudara” di sekitar kita setiap hari. Tapi kalau frekuensi dalam diri kita nggak disetel ke channel yang tepat, kita cuma akan terus “nggak dapat sinyal”, lalu menyalahkan radio yang rusak, padahal yang salah adalah channel yang kita pilih.
Di sinilah konsep yang sering disebut magnet rezeki mulai masuk akal. Mari kita bahas.