Ada satu pola yang sering saya lihat—dan jujur saja, pernah saya alami sendiri.
Orang-orang yang:
-
pendidikannya tinggi,
-
jam terbang internasionalnya panjang,
-
presentasinya rapi,
-
proposalnya tebal,
justru sering tidak ke mana-mana ketika berhadapan dengan mitra bisnis keturunan Tionghoa.
Bukan ditolak secara frontal.
Bukan juga dikritik terang-terangan.
Mereka hanya… tidak dilanjutkan.
Tidak ada follow-up.
Tidak ada kepastian.
Tidak ada “yes” maupun “no”.
Dan pertanyaan yang selalu muncul belakangan adalah:
“Apa yang sebenarnya salah?”
Jawabannya tidak selalu ada di strategi bisnis.
Sering kali, jawabannya ada di cara berpikir.
Di titik itulah saya bertemu dengan sebuah buku yang terasa seperti membuka tirai—pelan, tanpa gaduh, tapi sangat menentukan:
Inside the Chinese Business Mind karya Ted Sun.