“Dia hanya bisa jadi wapres karena ayahnya.”
“Masa wakil presiden termuda itu yang dicalonkan?”
“Coba kalau bukan anak Jokowi, bisa apa dia?”
Kamu pernah dengar kalimat-kalimat itu, kan? Mungkin kamu sendiri pernah mengucapkannya — setengah berbisik di grup WhatsApp, atau lantang di kolom komentar Instagram. Dan saya tidak akan bilang perasaan itu salah. Persoalan dinasti politik, keputusan Mahkamah Konstitusi yang kontroversial, hingga kesalahan menyebut “asam sulfat” sebagai solusi stunting — semua itu nyata, terdokumentasi, dan sah untuk dikritisi.
Tapi ada satu sudut pandang yang hampir tidak pernah dipakai orang untuk membaca seseorang seperti Gibran Rakabuming Raka. Sudut pandang yang tidak peduli seberapa kuat ayahmu, seberapa besar anggaranmu, atau seberapa viral kesalahanmu.
Numerologi.