Saya masih ingat sore itu dengan jelas, meski sudah lebih dari lima belas tahun berlalu.
Waktu itu saya baru saja gagal dalam sebuah wawancara kerja yang sangat saya harapkan. Umur dua puluh dua tahun, saya pulang ke rumah kakek di pinggiran Magetan dengan wajah yang—kata beliau—”kaya wong kelangan dompet.” Saya duduk di teras, memandangi halaman yang ditumbuhi pohon sawo, sambil menahan diri agar tidak menangis di depan orang yang saya kagumi seumur hidup.
Kakek saya bukan orang terpelajar dalam arti akademis. Beliau tidak tamat Sekolah Rakyat (SR), lalu menghabiskan hidupnya sebagai petani dan, di masa tuanya, tukang kayu yang mengerjakan pesanan tetangga. Tapi kalau soal hidup—soal bagaimana menjalani hari tanpa dikoyak-koyak kekecewaan—rasanya tidak ada gelar doktor yang bisa menandingi kebijaksanaannya.
Sore itu beliau tidak bertanya apa yang terjadi. Beliau hanya menyodorkan kopi hangat, duduk di sebelah saya, dan berkata pelan, “Le, uripmu isih dawa. Sing penting, ojo gumunan, ojo getunan, ojo kagetan.”
“Nak, hidupmu masih panjang. Yang terpenting, jangan mudah silau oleh apa pun, jangan mudah menyesali yang telah terjadi, dan jangan mudah panik menghadapi setiap perubahan.
Saat itu saya tidak sepenuhnya paham. Yang saya tahu, ada sesuatu dalam kalimat itu yang membuat beban di dada saya terasa lebih ringan. Bertahun-tahun kemudian, setelah melalui berbagai kegagalan dan pencapaian, saya baru sadar bahwa kakek saya sedang mewariskan sebuah peta jalan hidup yang jauh lebih dalam daripada yang saya bayangkan waktu itu.