Ada ironi yang sering saya temui di ruang rapat perusahaan. Mereka menghabiskan anggaran besar untuk iklan, rebranding logo, dan sponsor acara. Tapi begitu HR bilang, “Pak, kita susah cari talenta bagus,” semua orang saling pandang bingung. Padahal, kalau kita buka halaman LinkedIn perusahaan itu, isinya sepi seperti mal yang baru tutup. Postingan terakhir tiga bulan lalu, isinya pengumuman libur nasional, dan ucapan selamat Idulfitri dengan desain template.
Perusahaannya hebat. Budayanya sehat. Gajinya kompetitif. Tapi dari luar, semua itu tidak terlihat.
Bayangkan kamu mau menginap di sebuah kota yang belum pernah kamu kunjungi. Kamu buka aplikasi pemesanan hotel, lalu menemukan satu hotel dengan nama bagus, tapi tanpa foto, tanpa ulasan, tanpa deskripsi. Padahal, bisa jadi kamarnya luar biasa, pelayanannya prima, sarapannya juara. Apa yang kamu lakukan? Hampir pasti, kamu scroll ke hotel lain yang fotonya jelas dan ulasannya meyakinkan.
Itulah yang terjadi pada perusahaan yang mengabaikan employer branding.
Calon karyawan hari ini bertindak seperti tamu hotel yang cermat. Sebelum melamar, mereka mengintip dulu: seperti apa sih budaya kerjanya? Siapa pemimpinnya? Apa yang dikatakan orang dalam tentang tempat ini? Dan tempat pertama yang mereka buka untuk mencari jawabannya, hampir selalu LinkedIn.
Kalau yang mereka temukan hanya halaman kosong, mereka tidak menyimpulkan “mungkin perusahaan ini sibuk bekerja”. Mereka menyimpulkan, “ya sudah, saya lamar tempat lain saja.”