Tag: Berkarya

  • Menyelami “Panggilan” Dalam Keseharian

    Belum lama ini saya mendapatkan pesan singkat melalui surat elektronik dari seseorang. Sebut saja bernama Krishna. Secara pribadi, saya belum pernah mengenal namanya – apalagi bertemu. Oleh karena itu, ketika ada surat masuk, saya langsung membacanya secara seksama.

    Selidik demi selidik, Krishna merupakan seorang mahasiswa tingkat akhir jurusan Teknik Mesin di sebuah perguruan tinggi ternama di Kota Semarang, Jawa Tengah. Akhir April lalu, ia menyelesaikan membaca buku saya terbitan 2017 yang berjudul Mantra Kehidupan: Sebuah Refleksi Melewati Fresh Graduate Syndrome & Krisis Seperempat Baya.

    Singkat kata, Krishna merasa tercerahkan setelah membaca buku. Sebagai calon Sarjana, ia mengaku beruntung sekali mendapatkan semacam “pencerahan” karenanya. Namun, di saat yang bersamaan ia meminta nasehat untuk membuat peta jalan karir yang akan dilaluinya kelak.

    Krishna mungkin hanya satu dari jutaan lulusan perguruan tinggi yang setiap tahunnya dihadapkan pada fase terpenting dalam perjalanan hidup. Tidak lain ialah menentukan cetak biru karir. Ya, Krishna tidak sendirian. Jangankan fresh graduate, para profesional berusia 40 atau yang telah melewati titik paruh baya juga tidak jarang dirisaukan dengan urusan berkarya.

    Mencermati hal ini, saya langsung teringat dengan survei independen yang saya lakukan pada kurun 2016-2018. Sebuah riset yang melibatkan lebih dari 1000 orang di 100 kota di Indonesia, Asia – Pasifik, Eropa Utara, dan Amerika. Survei itu bertajuk panggilan hidup.

    Dari hasil temuan yang saat ini masih dalam proses pengolahan, lebih dari 90 persen responden mengaku bahwa karir merupakan salah satu aspek terpenting dalam hidup. Hal itu tidak mengherankan mengingat sebagian besar waktu produktif kita dihabiskan pada aspek tersebut.

    Yang menarik, lebih dari separuh responden mengatakan kurang puas dengan pekerjaan yang dimiliki saat ini. Akibatnya, kebahagiaan cukup terusik. Ketentraman apa lagi. Kenyataan ini menyebabkan mereka mulai mendefinisikan kembali apa yang paling diinginkan dalam hidup, apa yang dianggap paling penting, apa yang paling diprioritaskan, apa yang membuat hidup bermakna, dan bagaimana mereka bisa menjadi “pribadi baru” di kemudian hari.

    Dari temuan riset yang kelak akan saya beberkan lagi dalam bentuk buku, rupanya hanya sebagian responden yang benar-benar menyelami “panggilan” dalam berkarya dan menjalani hidup dengan “hidup”. Akibatnya, sebanyak apapun penghasilan yang didapatkan tidak selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan. Konsekuensinya, sekeras apapun usaha yang dikerahkan untuk mencapai goal, menjadikan mereka cepat bosan, hampa, dan kehilangan motivasi. Pemaknaan “panggilan” antar individu memang beragam. Pasalnya, seringkali berkaitan dengan perjalanan intristik. Tidak lain merupakan titik temu antara minat, bakat, keterampilan, passion, apa yang benar-benar digelisahkan, dan bidang apa yang paling sungguh-sungguh ingin digeluti untuk memecahkan masalah di sekitar.

    Dari ribuan orang yang saya temui, “panggilan” memang salah satu pilar kunci yang menentukan bahagia atau tidaknya seorang individu. Pasalnya, orang yang menyelami “panggilan”, akan senantiasa terdorong untuk menciptakan nilai tambah, memberikan solusi, bermanfaat kepada sesama, dan membuat perbedaan dalam bidang-bidang yang kurang dipikirkan oleh orang lain.

    Orang yang memiliki “panggilan” pada umumnya tidak rentan bosan, hampa, dan kehilangan motivasi. Karena tujuan mereka berkarya (dan hidup) bukan untuk dirinya sendiri. Melainkan untuk memberi atau melayani orang lain sesuai dengan potensi.

    Orang yang menyelami “panggilan” berkarya dengan jiwa dan hati. Tidak hanya dengan otak yang seringkali berkutat pada masalah “untung-rugi”. Lantas, sudahkah Anda menyadari “panggilan” hidup Anda sendiri? Kalaupun belum, tidak usah khawatir. Karena panggilan tersebut sudah Ada di dalam diri. Anda hanya perlu traveling inside. Lebih tepatnya lagi, traveling within yourself. Selamat mencoba.

     

    *) Artikel ini pertama kali dimuat di Intipesan pada 16 Mei 2018 

     

  • Memaknai Kembali Pekerjaan

    Bekerja ialah salah satu kegiatan utama setiap orang di sepanjang hidup. Sebagian besar orang menghabiskan setidaknya sepertiga waktu produktif untuknya. Sebagian lainnya bahkan lebih dari itu.

    Melalui pekerjaan, setiap individu “menyumbangkan” diri. Dari waktu, tenaga, pikiran dan tentu saja biaya. Dengan pekerjaan kita rela meneteskan darah, keringat dan air mata. Menguji ketulusan, kesabaran, ketekunan, pengorbanan, tanggungjawab, dan integritas. Berkat pekerjaan kita bisa menggapai mimpi dan cita (bahkan cinta).

    Menyadari berharganya pekerjaan, setiap insan berjuang setengah mati untuk mempersiapkan diri jauh-jauh hari. Dimulai dari kelulusan SMP. Saudara-saudara kita yang ingin cepat bekerja tentu memilih SMK, sesuai dengan vokasi yang diinginkan. Sementara itu yang memiliki hasrat untuk meneruskan ke perguruan tinggi, mempercayakan SMA dengan konsentrasi Ilmu Alam, Ilmu Sosial hingga Bahasa.

    Bagi yang beruntung bisa melanjutkan kuliah, “drama” pemilihan jurusan tak terelakkan lagi. Seringkali orang tua ikut campur tangan dalam menentukan program studi buah hati. Tidak jarang pilihan yang diambil mengabaikan aspek minat, bakat, potensi dan kepribadian. Banyak yang masih ikut-ikutan tren hingga mengambil jurusan tertentu hanya karena prospek pekerjaan. Tidak ada yang salah memang. Namun dari sini kita bisa mengerti, betapa pekerjaan menjadi isu penting yang tak bisa dipungkiri.

    Pekerjaan merupakan salah satu pilar dalam menentukan pasangan hidup. Beberapa orang mengidolakan calon jodoh dari profesi tertentu. Sebagian orang mematok calon pasangan, harus memiliki penghasilan dengan jumlah yang menurut mereka “wajar”. Sebagian lainnya sama sekali tidak mempermasalahkan profesi, asalkan bisa menghidupi.

    Pekerjaan ibarat pisau bermata dua. Bergantung dari cara individu menyikapi masalah bertubi-tubi yang mengiringi karirnya. Banyak figur publik mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Sebagian dipenjara karena korupsi hingga mengkonsumsi narkotika. Tidak sedikit yang stres tiada henti karenanya. Sementara itu masih ada yang bahagia karena bekerja. Apapun rintangan yang dilaluinya.

    Lantas bagaimana kita memaknai pekerjaan? Jika kita ulik lagi, ada beberapa poin yang bisa disarikan.

    Pekerjaan Sebagai Beban

    Ini dirasakan oleh orang-orang yang belum mengenal dengan baik siapa dirinya. Mereka menganggap segala tanggungjawab yang dihadapi karena keterpaksaan. Mengeluh, menyalahkan orang lain, dan acuh tak acuh sudah menjadi kebiasaan orang di level ini. Mereka bekerja semata-mata ingin mendapatkan Rupiah. Seringkali mereka ingin menang sendiri, mengambil sesuatu yang bukan menjadi haknya, dan mengabaikan kata hati.

    Pekerjaan Sebagai Aktualisasi Diri

    Ini dirasakan oleh kebanyakan orang. Mereka bekerja secara profesional. Menyalurkan potensi, minat, bakat dan keterampilannya dalam keseharian. Sebagai gantinya, mereka mendapatkan upah. Sistem reward & punishment cukup efektif dalam “memompa” semangat orang-orang di level ini. Mereka bekerja keras demi jenjang karir yang didambakan. Paada saat yang bersamaan, mereka terus tumbuh karena bertambahnya pengalaman. Didewasakan oleh masalah, ditempa dengan tugas yang dari hari ke hari makin besar.

    Pekerjaan Sebagai Cara untuk Melayani Sesama

    Mereka bekerja bukan karena keterpaksaan. Mereka berkarya bukan sekonyong-konyong karena uang. Namun mereka “ada” untuk melayani sesama. Semakin besar tanggung jawab yang dieemban, semakin besar pula “peluang” mereka untuk bahagia. Memberikan sebagian tenaga, waktu dan pikiran sudah menjadi denyut nadi. Membantu sesama telah menjadi citra diri. Mereka tidak tinggi hati ketika dipuji, dan tidak rendah diri ketika dicaci.

    Pekerjaan Sebagai Jalan untuk Memecahkan Masalah Orang Lain

    Pekerjaan sejatinya merupakan ujian yang wajib diselesaikan. Itu artinya, siapa saja yang bisa “lulus”, secara otomatis akan “naik kelas”. Dengan kata lain, cepat atau tidaknya perkembangan karir kita ditentukan oleh seberapa besar masalah yang kita pecahkan. Semakin tinggi posisi, semakin tinggi pula tantangan yang harus diredamkan. Semakin dahsyat kepuasan yang ditawarkan, semakin dahsyat pula resiko yang mengiringi. Menyadari hal itu, orang-orang yang berada pada level ini tidak pernah iri dengan pencapaian orang lain. Mereka percaya dengan hukum alam bahwa apa yang ditanam, itu pula yang akan dituai.

    Pekerjaan Sebagai Panggilan

    Ini merupakan “derajat” tertinggi dalam menghayati sebuah pekerjaan. Mereka berkarya bukan semata-mata karena kepentingan dunia. Melainkan sebagai sarana untuk mengabdi kepada Sang Hyang Widhi. Orang-orang ini berkarya karena ibadah. Jadi, mereka tidak lagi bekerja “hitung-hitungan”. Melainkan berusaha menciptakan nilai tambah dari masa ke masa. Mereka berhubungan dengan Tuhan sebaik berhubungan dengan manusia. Oleh karena itu mereka yakin, bahwa rezeki tidak akan pernah tertukar. Bagi mereka, bekerja merupakan proses ibadah yang dengan suka cita dilaksanakan dengan “tujuan” mulia.

    Nah, di atas merupakan beberapa makna pekerjaan versi saya. Bisa jadi Anda memiliki definisi tersendiri. Namun itu tidak jadi soal. Karena pekerjaan merupakan cermin dari siapa kita. Jadi ingin menjadi sebaik apakah Anda dalam menyelami pekerjaan?

     

    Artikel ini sebelumnya dimuat di Intipesan, 31 Juli 2017