Gue pernah di titik di mana semua usaha rasanya sia-sia.
Bangun pagi, kerja sampai larut, tapi hasilnya? Masih jauh dari ekspektasi.
Sementara orang lain—yang kayaknya santai aja—malah melesat jauh.
Pernah kan lo ngerasa kayak gitu juga?
Gue pernah di titik di mana semua usaha rasanya sia-sia.
Bangun pagi, kerja sampai larut, tapi hasilnya? Masih jauh dari ekspektasi.
Sementara orang lain—yang kayaknya santai aja—malah melesat jauh.
Pernah kan lo ngerasa kayak gitu juga?
Bayangkan sebuah momen sederhana.
Nama Anda disebut dalam sebuah forum bisnis, seminar nasional, atau wawancara media.
Seseorang berkata dengan yakin, “Seperti yang dijelaskan dalam bukunya Bapak/Ibu….”
Gue masih inget banget momen itu.
Sore yang harusnya tenang malah berakhir dengan overthinking parah. Laptop kebuka, 14 tab Chrome nyala, notifikasi Slack kedip terus, dan tangan gue sibuk… bukan ngetik, tapi gonta-ganti tab biar terasa sibuk.
Pernah nggak kamu merasa: “Aku sudah kerja keras, sudah pantang menyerah, tapi kok ya masih begini-begini saja?”
Atau pernah punya keyakinan: “Kalau aku bisa kontrol pikiran & emosiku, maka hidupku aman dan bahagia”?
“Tapi aku sudah nyerah aja deh.”
Itulah kalimat terakhir yang nyaris keluar dari mulutku malam itu — setelah proposal ditolak satu-satu, deadline mengejar dari belakang, tagihan menumpuk. Di titik itu, aku berpikir: “Apakah ini semua cuma mimpi sih? Apa aku enggak punya harga diri?”Di tengah keputusasaan itu, aku buka buku Badass Your Brand oleh Pia Silva. Dan deg-degan, pelan-pelan, ibarat diberikan senter di ruang gelap, aku mulai melihat jalan keluar yang selama ini tak kupercaya bisa ada.
Kalimat itu pernah gue dengar dari seorang teman yang sebenarnya cukup populer di dunia profesional. Followers-nya ribuan, tampil di berbagai podcast, tapi waktu ngobrol santai, dia jujur bilang, “Gue merasa kayak hidup buat perform, bukan buat berkembang.”