Saatnya Tidak Mengejar Kebahagiaan

Kebahagiaan adalah dambaan  — jika tidak mau dikatakan sebagai tujuan — setiap orang. Setiap detik apa yang kita lakukan mencerminkan apa yang menurut kita bisa mendatangkan kebahagiaan. Entah mendapatkan penghasilan sebesar mungkin, meraih followers di media sosial sebanyak mungkin, mencapai jabatan sebergengsi mungkin, membeli barang bermerek, mengelilingi dunia, berkumpul bersama berkeluarga atau sekadar bisa “me time” di rumah.

Meskipun kebahagiaan sejatinya tanpa syarat, banyak orang yang “gagal” meraihnya. Tanyakan saja diri kita sendiri dengan jujur, “Apakah saya bahagia saat ini? ”

Menurut Iris Mauss, PhD, seorang profesor psikologi di University of California, Berkeley; ketika kita mengajukan pertanyaan seperti itu kepada diri kita sendiri, kita justru kurang bahagia.

Pasalnya, Mauss telah menghabiskan bertahun-tahun mempelajari sebuah fenomena yang oleh beberapa orang disebut sebagai “paradoks kebahagiaan”. Paradoksnya adalah ketika orang berusaha keras untuk bahagia — ketika mereka menjadikan perasaan bahagia sebagai tujuan — mereka justru menderita atau merasa tidak tentram.

Ada banyak alasan untuk hal itu. Entah karena pengaruh budaya, agama, hingga cara kita mendefinisikan dan mengejar kebahagiaan.

Tetapi pelajaran utama dari penelitian kebahagiaan adalah bahwa semakin kita terobsesi dengan keadaan emosional diri sendiri — semakin penting perasaan diri sendiri, dan semakin kita mencoba mengarahkannya — semakin besar kemungkinan kita mengalami masalah emosional dan psikologis.

Beberapa waktu lalu, Mauss dan kolaborator penelitiannya meminta orang untuk mendefinisikan kebahagiaan. Mereka menemukan banyak variasi dalam cara orang menjawab. Beberapa orang mengatakan kebahagiaan berarti memiliki perasaan yang baik, yang mungkin merupakan respons paling intuitif. Tetapi ketika ditanya perasaan baik apa yang mereka bicarakan, beberapa menyebutkan “kegembiraan” atau “kesenangan”. Sementara yang lain mengatakan “kedamaian.”

Beberapa orang tidak membicarakan perasaan sama sekali. Mereka mendefinisikan kebahagiaan dalam hal pengetahuan – pengetahuan bahwa hidup mereka bermakna, atau pengetahuan bahwa mereka adalah orang yang lebih baik daripada lima tahun lalu. Yang lain mengakui gagasan mereka tentang kebahagiaan adalah memperoleh lebih banyak harta benda.

Di belahan bumi manapun, terkecuali di Nusantara ini; kebahagiaan bersifat relatif individualistis. Fakta bahwa kita bahkan tidak dapat menyepakati apa itu kebahagiaan mungkin sebagian menjelaskan mengapa menumbuhkan lebih banyak kebahagiaan adalah sebuah tantangan.

Namun, Mauss dan rekan-rekannya menemukan bahwa definisi kebahagiaan seseorang, apa pun definisinya, cenderung berkorelasi dengan ukuran kesejahteraan yang lebih baik. Kegembiraan dan kedamaian dan pengetahuan bahwa hidup kita bermakna — itu semua hal yang baik.

Menurut Mauss, ada satu pengecualian besar. Ketika orang mendefinisikan kebahagiaan dalam hal harta benda, itu dikaitkan dengan kesejahteraan yang lebih buruk.

Mauss menemukan wawasan yang lebih berguna saat mengerjakan studi tahun 2015 yang muncul di Journal of Experimental Psychology. Untuk proyek itu, ia dan rekan-rekannya meneliti bagaimana orang-orang dalam budaya yang berbeda di seluruh dunia memikirkan dan mengejar kebahagiaan.

Berdasarkan temuan Mauss, kebahagiaan bersifat relatif individualistis di Amerika Serikat. Orang Amerika dalam studinya cenderung berfokus pada pengalaman emosional pribadi mereka dan cara terbaik untuk memperbaikinya. Dan sekali lagi, menilai kebahagiaan dengan cara ini dikaitkan dengan kesejahteraan yang lebih rendah.

Tetapi di Asia Timur, di mana gagasan tentang kebahagiaan lebih bersifat sosial dan kolektivis, daripada berorientasi pada diri sendiri, pola-pola ini terbalik. Semakin seseorang menghargai kebahagiaan, semakin besar kesejahteraannya.

Di sana, Mauss dan kelompoknya menemukan bahwa pengejaran kebahagiaan tampak berbeda dibandingkan di Amerika. Kebahagiaan sering kali melibatkan membantu orang lain atau menghabiskan lebih banyak waktu bersama teman dan keluarga. Orang juga cenderung mengasosiasikan kebahagiaan dengan sentimen seperti “melihat orang lain puas” atau “membuat orang yang saya sayangi merasa senang.”

Salah satu “produk sampingan” yang tidak diinginkan dari memprioritaskan kebahagiaan — yang mudah diabaikan — adalah kita akhirnya menghabiskan banyak waktu untuk memantau dan menilai perasaan kita. Misalnya dengan memancing dengan pertanyaan, “Bagaimana kabar saya sekarang?”, “Apakah ekspektasi hidup saya”, “Bagaimana perasaan saya saat ini?”, dan seterusnya.

Apa pun jawaban yang kita berikan, Mauss mengatakan bahwa pemeriksaan diri emosional semacam ini dapat memiliki konsekuensi yang tidak menyenangkan.

Jika emosi kita menyenangkan, berhenti sejenak untuk memeriksanya dapat mengurangi kepositifannya dengan menarik diri kita keluar dari momen itu. Pengalaman “mengalir” — tenggelam sepenuhnya dalam sesuatu — adalah ciri khas dari banyak kegiatan yang dihargai atau dinikmati orang. Memeriksa keadaan emosi kita mengganggu aliran itu; itu merobek sebagian perhatian kita dari pengalaman yang menyenangkan.

Di sisi lain, jika “check-in” emosional kita mengungkapkan bahwa kita tidak bahagia, kita cenderung melihat ini sebagai masalah yang harus diperbaiki. Sisi lain dari menghargai kebahagiaan adalah bahwa kita dapat memprioritaskan penghindaran atau penekanan emosi negatif, dan melakukan itu terkait dengan banyak hasil negatif, termasuk depresi dan kesejahteraan yang lebih rendah.

Apa pelajaran yang dapat kita ambil dari temuan riset Mauss? Perasaan pada dasarnya tidak baik atau buruk, melainkan netral. Kitalah yang melabeli atau memberikan penilaian.

Beberapa mungkin lebih menyenangkan daripada yang lain, tetapi semuanya memiliki tujuan. Mereka ada untuk membantu menginformasikan perilaku kita. Membuat mereka lebih dari itu — mengubahnya menjadi tujuan mulia untuk dikejar atau hantu untuk ditakuti — memberi mereka kendali besar atas hidup kita.

Marilah kita mengingat momen ketika kita mengejar bayang-bayang diri sendiri ketika berada di bawah terik mentari. Semakin kita mengejar bayang-bayang diri sendiri, semakin menjauhlah bayang-bayang itu.

Begitupun kebahagiaan dalam hidup yang fana ini.  Semakin kita mengejarnya, semakin menjauhlah kebahagiaan itu. Karena kebahagiaan sejatinya ada di dalam diri tanpa syarat — bukan bergantung orang, peristiwa atau keadaan tertentu.

Selamat berkarya sahabatku. Jangan lupa bahagia.

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Leave a Reply