Seni Menyadari Panggilan Hidup

“Setiap orang itu unik”. Ungkapan ini mungkin terdengar begitu klise. Namun, maknanya tak lekang dimakan zaman. Sayangnya, masih begitu banyak orang di sekitar kita yang mengabaikan fakta itu. Apa buktinya? 
 
Tak terhitung orang di sekitar kita yang tidak mengetahui panggilan hidupnya. Akibatnya mereka lebih rentan galau, merasa insecure, hingga menganggap diri mereka tak bermakna meskipun dari sisi finansial mungkin jauh lebih baik dibandingkan generasi orang tua mereka. 
 
Sejatinya Tuhan menganugerahkan setiap individu dengan potensi. Hanya saja, tidak sedikit masyarakat yang tidak mau — lebih tepatnya tidak menyadari pentingnya mengenali kekuatan yang ada pada dirinya. Apa akibatnya? 
 
Banyak orang yang tidak bahagia dengan hidupnya. Karena mereka belum berhasil memaksimalkan potensi di dalam dirinya. Yang lebih menyedihkan lagi, mereka tidak memahami apa yang benar-benar mereka dan Tuhan inginkan dari hidup mereka. 
 
Pentingnya Panggilan Hidup 
Sebagai seorang praktisi dan pemerhati pengembangan sumber daya manusia; saya bersyukur sudah mulai banyak public figure yang menekankan pentingnya passion dalam bekerja. Tak mengherankan berderet buku, pelatihan, lokakarya atau seminar tentang passion telah diterbitkan. Secara bersamaan; kengintahuan generasi muda Indonesia mengenai renjana mereka juga meningkat. 
 
Sayangnya, passion saja tidaklah cukup agar kita bisa berkarya dengan bahagia dan bermakna. Passion mungkin membuat kita bergairah dalam melakukan tugas demi tugas. Namun tanpa panggilan hidup yang jelas, passion  tidak membuat diri kita bermakna. 
 
Itulah mengapa dalam berbagai kesempatan, saya mengedukasi pentingnya panggilan hidup. Baik dari buku-buku yang saya terbitkan maupun dari berbagai pelatihan yang saya gelar. 
 
Apa yang dimaksud dengan panggilan hidup?  Sejujurnya tidak ada definisi baku. Namun, panggilan hidup adalah apa yang menggerakkan diri kita. Ini merupakan pilihan sadar tentang apa, di mana, dan bagaimana kita bisa membuat perbedaan. 
 
Panggilan hidup merupakan alasan yang sangat kuat dari dalam diri kita. Inilah yang membuat kita benar-benar ingin memberikan manfaat, menolong sesama, menciptakan nilai tambah, dan menyelesaikan masalah. 
 
Panggilan hidup adalah apa yang paling kita gelisahkan, pedulikan, dan anggap penting. Sehingga, kita benar-benar terdorong untuk menjadi “pahlawan” di dalamnya untuk dunia yang lebih baik. 
 
Banyak orang meninggal yang masih menyimpan “musik” di dalam dirinya. Dalam metafora ini, musik merupakan panggilan dari jiwa kita. Itulah identitas diri kita yang otentik. 
 
Ketika kita menemukan “musik”, hidup akan sungguh-sungguh memancarkan energi baru. Karena ruh musik kita begitu kuat, kita hampir tidak mampu menahan diri untuk mengikuti iramanya. Itulah yang mendorong kita untuk turut “menari” guna memenuhi apa yang diinginkan oleh Tuhan dan dunia dari kita. 
 
Hanya diri kita sendiri yang bisa mendengarkan “panggilan musik” dari jiwa kita. Itu mengapa tidak ada orang lain yang bisa menggantikan kita untuk menemukan, menyadari, dan menjalani panggilan hidup. 
 
Jurus Menyadari Panggilan Hidup 
Di sepanjang tahun 2016, saya mengambil  Sabbatical selama setahun penuh. Secara sengaja saya menikmati waktu jeda untuk mengetahui apa yang benar-benar saya inginkan dalam hidup. Berbagai aktivitas pun saya nikmati. Mulai dari mengelilingi beberapa pulau Indonesia, mencoba berbagai hal baru, meminta bantuan ke psikolog, mengikuti berbagai asesmen bakat dan kepribadian, hingga mewawancarai ribuan orang Indonesia yang telah menemukan panggilan hidupnya. 
 
Salah satu “buah” dari Sabbatical adalah terbitnya buku The Calling: Rahasia Menyadari Apa yang Benar-Benar Anda dan Tuhan Inginkan. Berikut adalah beberapa tips yang dapat membantu kita untuk menyadari panggilan hidup. 
 
Pertama, mencoba banyak hal baru.  Dengan mencoba banyak hal baru membuat pengalaman kita berwarna. Kita akan memahami apa saja aktivitas yang membuat kita bahagia maupun apa saja pekerjaan yang membuat kita berharga. Kelak, kita akan memutuskan untuk fokus pada satu atau dua bidang yang kita anggap membahagiakan ketika dilakukan, bermanfaat untuk orang banyak, mensejahterakan secara finansial, dan sesuai dengan minat dan bakat kita. 
 
Kedua, menemukan masalah untuk dipecahkan. Mengapa banyak orang yang sukses secara duniawi tidak bahagia hidupnya? Karena orientasi bekerjanya adalah untuk keuntungan pribadi. Berangkat dari situ, kita bisa mengubah pola pikir kita tentang berkarya. Cobalah untuk menyelesaikan masalah di sekitar kita. Semakin besar values yang kita persembahkan, semakin besar pula peluang kita untuk “merasa” bermakna. Dalam konteks ini kunci kesuksesan kita bukan semata-mata diukur dari cuan yang diraup, namun seberapa banyak orang yang merasa terbantu oleh kehadiran kita. 
 
Ketiga, menemukan sosok panutan. Kebanyakan diri kita kemungkinan besar memiliki role model  yang menginspirasi. Itulah orang-orang yang ingin kita ikuti jejaknya. Bukan berarti meniru mentah-mentah dengan rekam jejak kariernya, akan tetapi setidaknya mengikuti pola yang telah terbukti membawa mereka pada titik keberhasilan.  Dewasa ini kita begitu mudah menghubungi Cofounder perusahaan rintisan, C-level, Self-Employee, pebisnis maupun profesional berprestasi melalui LinkedIn. Tak ada salahnya kita menghubungi orang-orang yang kita anggap panutan kita di platform tersebut untuk bertukar pikiran, berkolaborasi atau menjadikan mereka mentor. 
 
Keempat, menyadari potensi diri. Masing-masing dari diri kita memiliki kepribadian, minat, bakat, kekuatan dan perjalanan hidup yang unik. Oleh karena itu, kita perlu memahami “modal” tersebut agar apapun bidang yang ingin kita tekuni sesuai panggilan hidup. Kabar baiknya dewasa ini ada begitu banyak platform berbayar maupun gratisan yang membantu kita menemukan “harta karun” nan bersemayam di dalam diri kita. 
 
Kelima, menjadi versi terbaik diri sendiri. Salah satu kesalahan terbesar kita adalah membanding-bandingkan pencapaian diri sendiri dengan orang lain. Untuk menyadari panggilan hidup kita perlu menjadi versi terbaik diri sendiri. Yang perlu kita bandingkan adalah pencapaian diri kita hari ini dengan kemarin. Jika kita telah mencapai progress, itu artinya kita telah melewati proses. Karena sesungguhnya sukses itu adalah perjalanan — bukan tujuan akhir. 
 
Keenam, mengikuti life values. Setiap orang tentu memiliki nilai-nilai hidup yang menjadi “pegangan”.  Oleh karena itu, tak ada salahnya kita menjadikan nilai-nilai inti diri kita sebagai pedoman untuk menyadari dan menjalani panggilan hidup.  Apa yang kita anggap penting dalam hidup? Apa yang ingin kita perjuangkan dalam hidup? Dua pertanyaan sederhana ini bisa menjadi “pancingan” untuk mengikuti apa yang benar-benar kita inginkan di sisa hidup kita. 
 
Ketujuh, menikmati proses. Salah satu fenomena generasi muda dewasa ini adalah ingin berlomba-lomba untuk mencapai apa yang dinamakan dengan kesuksesan. Tidak salah memang. Namun, yang sering terlupakan adalah kita lupa dengan proses atau perjalanan dalam upaya menemukan hingga menjalani panggilan hidup. Setiap orang memiliki orbit masing-masing. Asalkan kita terus bergerak, kita tak perlu merisaukan apa yang ada di depan dan tak perlu menyesali apa yang telah terjadi. Kita hanya perlu menghadapi apapun pengalaman yang ditawarkan hidup se-apa-adanya. 
 
Masing-masing dari kita memiliki mimpi, ambisi, dan hal-hal yang ingin kita capai dalam hidup ini. Masalahnya adalah, kebanyakan orang tidak mengukir waktu dan ruang untuk memahami tujuan atau panggilan mereka dalam karier mereka. Ratusan juta orang di seluruh dunia merasa tidak puas dalam kehidupan sehari-hari mereka. Tak terhitung masyarakat Indonesia yang bekerja tidak bahagia dengan pekerjaan mereka saat ini. Bahkan menurut hasil berbagai riset,  25% orang yang merasa yakin bahwa mereka mengetahui panggilan hidupnya. Sisanya mengatakan mereka tidak yakin atau tidak tahu.
 
Banyak orang begitu terpaku pada harapan kita tentang seperti apa hidup itu seharusnya. Yang lebih miris, tidak sedikit memilih “default” untuk mengikuti jalan yang ditetapkan masyarakat untuk mereka. Kabar baiknya, saat kita memutuskan untuk mengambil tindakan dan menemukan panggilan; menjalani kehidupan impian kita lebih mudah daripada yang kita pikirkan.
 
Akhir kata, tak ada waktu terlambat untuk menyadari panggilan hidup. Karena setiap orang memiliki “linimasa” masing-masing. Sebagaimana kutipan dari Profesor Seoul National University Rando Kim dalam bukunya Time of Your Life ini.
 
“Setiap bunga akan mekar ketika saatnya tiba; forsythia, kamelia, dan bunga-bunga lain. Bebungaan itu tahu kapan mereka akan mekar; tidak seperti kebanyakan dari kita yang selalu ingin mendahului yang lain. Apakah kamu merasa tertinggal dari teman-temanmu? Apakah kamu merasa telah menyia-nyiakan waktu sementara teman-temanmu mulai melangkah menuju kesuksesan? Jika kamu berpikir demikian, ingatlah bahwa kamu memiliki masa mekarmu sendiri, begitu juga dengan teman-temanmu. Musimmu belum datang. Namun, ia pasti akan datang ketika kuncupmu terbuka. Mungkin kuncup itu mekar lebih lama dari yang lain, tetapi ketika sampai pada waktunya, kamu akan mekar dengan begitu indah dan menawan seperti bebungaan lain yang telah mekar sebelum dirimu. Jadi, angkatlah kepalamu dan bersiaplah menyambut musimmu. Ingat, kamu begitu menakjubkan!”
 
 
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
Edit