Memaknai Kritikan

“Tak ada manusia yang sempurna.” Ungkapan ini begitu klise, bukan?

Ya, kesempurnaan memang hanya milik Tuhan. Sehebat apapun ciptaan-Nya tentu ada kekurangan, kelemahan, kecacatan dan keburukan.
Untuk tumbuh, kita perlu kritikan dari orang lain. Karena kita tidak sepenuhnya menyadari “titik buta” kita.
Untuk mengembangkan diri, kritikan seyogyanya menjadi keharusan. Karena dari situ kita tahu sisi mana yang perlu diperbaiki, ditingkatkan lagi.
Bagi sebagian orang, menerima kritikan sungguh sulit. Menyakitkan, membuat diri “down”, hingga timbul penolakan berlebihan.
Nah, bagaimana denganmu? Bagaimana kamu memandang kritikan?
Kritikan mereka, modal tumbuhmu.
Agung Setiyo Wibowo
Depok, 4 Desember 2020
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
Edit