Jangan Kejar Passion, Bangun Karakter Diri Lewat Panggilan Hidup

Apa yang menjadi tujuan Anda selama hidup di dunia ini? Banyak orang mungkin akan ingin mencari kebahagiaan, namun kebahagiaan yang seperti apa? Bagi Agung Setiyo Wibowo,
seorang konsultan, public speaker, sekaligus penulis buku kebahagiaan itu adalah saat apa saja yang kita lakukan yang dapat bermanfaat bagi sesama.

 

Writing for Healing

Mungkin pola pikir inilah yang memotivasi Agung untuk menjadi seorang penulis. Berawal dari kegelisahan yang dihadapi, yang ternyata juga dialami oleh orang-orang di sekitarnya, sehingga ia coba curahkan lewat tulisan. Menulis adalah sebuah usaha yang ia lakukan untuk menyembuhkan diri sendiri, sekaligus agar orang lain mendapatkan inspirasi yang membantu menyelesaikan masalah mereka.

Meskipun sudah menerbitkan 20 buku dalam 4 tahun terakhir, ditulis tetap menjadi hal yang sangat sulit dilakukan bagi sosok ekstrover seperti Agung. Menurutnya ia lebih mudah menuangkan pikirannya secara lisan melalui tulisan.

“Sebagai ekstrover saya itu natural speaker, jadi 1000% lebih gampang ngomong daripada nulis. Karena nulis itu butuh ketenangan, refleksi, dan energi yang luar biasa. Apalagi ada tanggung
jawab sosial saat saya mengekspresikan diri lewat tulisan,” jelas Agung.

Bagi Agung buku yang ia tulis merupakan gambaran karakter dirinya. Perjalanan hidup sangat mempengaruhi karya yang ia buat. Itulah mengapa ia berpesan untuk terus mencintai diri
sendiri dan mengapresiasi apa saja yang telah dilalui. Karena setiap pengalaman, latar belakang, dan masalah hidup dapat menjadi sumber inspirasi yang tiada henti.

 

Titik Terendah Kehidupan

Menulis buku juga merupakan turning point bagi Agung. Meskipun sudah ditulis sejak tahun 2007, Agung pernah vakum cukup lama karena pendidikan dan pekerjaan yang ia lakukan. Hingga akhirnya pada tahun 2016, saat berada di titik terendah, Kehilangan arah dan mengalami
krisis finansial atau kejiwaan, ia kembali menemukan kebahagiaan saat mulai menulis.

“2016 itu titik nadir pokoknya, secara financially broke, secara emotionally broken. Bahkan sampai
gak tahu mau ngapain mulai dari menjadi dosen, volunteer, hingga agen asuransi aku lakuin,” ungkap Agung.

Pengalaman yang ia hadapi inilah yang menjadi alasan mengapa kesuksesan terbesarnya bukan tentang penjualan atau menjadi best seller, tapi ketika terdapat pembaca yang berterima kasih setelah membaca karyanya.

 

Sukses Tapi Egois?

Kepuasan saat membantu orang lain yang Agung rasakan kemudian ia coba tuangkan dalam sebuah buku berjudul “The Calling”. Setelah ia melihat bahwa banyak orang yang terlihat sukses, hanya untuk egonya sendiri, agar dipuja atau dihargai. Sehingga prinsip yang dipegang oleh Agung adalah bahagia terlebih dahulu baru dapat meraih sukses. Kebahagiaan ini tercapai ketika kita memiliki panggilan hidup.

“Kita bisa tahu apa panggilan hidup kita, jika yang kita lakukan membuat bahagia sesama, berguna
bagi sesama, menyelesaikan masalah yang ada, dan diniatkan untuk tuhan bukan penilaian manusia,” tambah Agung.

 

Kaya Belum Tentu Bahagia

Menurut Agung terkadang anak zaman sekarang terlalu berfokus pada sebuah passion, padahal
mengejar passion saja tidak cukup, karena orientasinya ke diri sendiri. Oleh karena itu mengapa perlu juga memiliki sebuah panggilan hidup, karena orientasinya adalah untuk berguna bagi sesama.

“Mengejar passion mungkin bisa membuat kita kaya, tapi belum tentu bahagia. Passion kadang
hanya bisa memberikan pleasure, sedangkan sebuah panggilan hidup dapat memberikan happiness dan fulfillment,” jelasnya.

Panggilan hidup juga yang akan membantu membangun karakter diri sendiri, atau bahkan sebaliknya dengan membangun karakter diri kita akan menemukan panggilan hidup kita. Dua hal penting yang saling berhubungan untuk terus menjalani hidup. Pesan terakhir dari Agung adalah terus percaya nurani kita, karena nurani tidak akan pernah berbohong. Namun harus tetap disertai pertimbangan yang matang. Keseimbangan berpikir secara logis dan emosional.

Sumber: Dakomagz #6 halaman 28-33

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
Edit