Belajar dari Corona

Corona.

Mungkin kata ini paling populer di tahun 2020, setidaknya di kuartal pertama ketika tulisan ini dibuat.
Dunia heboh karenanya. Sekolah diliburkan. Para pekerja mengadopsi WFH: Work from Home.
Kepanikan benar-benar nyata. Social distancing bergulir. Namun kepanikan menggelora.
Si kaya memborong segalanya. Si miskin makin terdesak. Si kelas menengah di antara keduanya. Mereka terpecah.
Media begitu heboh menyuarakan fakta. Publik tak kalah membagikan berita bohong.
Perekonomian hancur. Pusat perbelanjaan, restoran, hotel dan kota wisata terpukul.
PHK di mana-mana. Pemotongan gaji menjadi salah satu solusi. Produktivitas memang menurun.
Namun, corona juga mendatangkan sisi positif. Kesadaran akan kesehatan meningkat. Ikatan keluarga makin erat.
Corona membagi manusia menjadi dua kelompok. Yang lebih mementingkan kesehatan alias takut mati. Yang lebih mementing perut alias takut lapar. Namun, ini hanya berlaku untuk kaum proletar.
Corona. Terima kasih atas kemunculanmu. Terima kasih.
Agung Setiyo Wibowo
Depok, 24 Maret 2020
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
Edit