Nafsu Gila

Apa yang ada dibenakmu ketika mendengar kata nafsu? Mungkin kamu menghubungkannya dengan ambisi, keinginan, hingga keakuan.

Apapun persepsimu, setiap dari diri kita memilikinya. Karena nafsu adalah simbol masih adanya nafas yang menjadi kunci kehidupan.
Nafsu bersifat netral. Baik dan positifnya bergantung diri kita.
Nafsu bisa menjerumuskan kita pada lembah keburukan yang menyengsarakan di kemudian hari. Nafsu pun bisa menjadi “sahabat”yang kelak mengantarkan pada surga.
Sayangnya, sebagian besar manusia di dunia memiliki nafsu gila. Mereka serakus hewan, sejahat iblis. Maunya menang sendiri, kaya sendiri, senang sendiri, tenar sendiri, berkuasa sendiri.
Jika kita ibaratkan nafsu adalah kuda dan kusir adalah diri kita, nafsu gila ibarat kusir yang tak dapat mengendalikan kuda. Bagaimana nasib kusir?
Ya bisa berabe. Kemungkinan besar kusir tak hanya mencelakai dirinya, namun juga orang hingga benda di sekitarnya.
Jika hidup adalah laksana perjalanan menaiki kuda yang mengantarkan pada tujuan (Tuhan/surga), kuda tidak perlu dimatikan namun dikendalikan. Karena kuda yang menjadi simbol ego atau keakuan tak dapat dipisahkan dari jiwa.
Lantas, bagaimana dengan dirimu? Sudahkah kamu berhasil mengendalikan nafsu gilamu?
Agung Setiyo Wibowo
Depok, 17 Februari 2020
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
Edit