Ilusi Kepemilikan

Stres.

Pembunuhan.
Perceraian.
Bunuh diri.
Gila.
Lima hal tersebut adalah segelintir efek negatif dari orang yang kemelekatannya pada dunia begitu tinggi. Keakuannya bergelora pada jiwanya.
Gara-gara merasa memiliki, kehilangan harta benda dan orang-orang terdekat berujung stres.
Gara-gara ingin memiliki, semakin banyak orang menghilangkan nyawa orang lain. Mereka pikir harta benda bisa memuaskan nafsu.
Gara-gara kepemilikan, pasutri bercerai. Kurangnya kepemilikan membuat istri atau suami kecewa, kesal, dan marah yang berujung petaka.
Gara-gara kepemilikan, tak terhitung jumlahnya orang tega membuat nyawa mereka melayang. Mereka malu karena miskin, terhimpit ekonomi yang menyesakkan. Tak sedikit yang berkelimpahan melakukan hal sama karena perebutan harta warisan hingga merasa diperlakukan tidak adil oleh keluarganya.
Gara-gara kepemilikan semakin banyak orang gila. Mereka tidak bisa mengendalikan diri.
Teman, hidup ini adalah ujian. Semua yang kita miliki adalah titipan. Anak-anakmu dan pasanganmu bukan milikmu. Harta bendamu bukan milikmu. Jabatanmu dan ketenaranmu bukan milikmu.
Lalu, apa guna kamu mengakuinya? Itu hanya membuatmu menjauh dari-Nya.
Dunia seisinya adalah milik-Nya. Kita hanya diberi titipan yang kelak akan dipertanggungjawabkan.
Ilusi kepemilikan. Makin kamu merasa memiliki, makin sengsara hidupmu.
Tabik.
Agung Setiyo Wibowo
Jakarta, 19 Februari 2020
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
Edit