Makna Keturunan

“Hei, sudah punya momongan belum?”

Pertanyaan ini begitu klise untuk dibahas. Namun, begitulah kenyataannya. Bagi pasangan yang hidup di alam budaya Indonesia, mendapati pertanyaan tersebut pasti tidak mengagetkan.
Mungkin maksud si penanya baik. Namun, tak banyak yang menyikapi secara berbeda. Khususnya bagi yang ingin memilili keturunan namun belum diberi “kepercayaan”.
Ya, bagiku anak adalah amanah. Sebuah tanggungjawab yang kelak akan diadili. Mengapa demikian?
Karena sekeras apapun kita berjuang mendapatkan anak kalau Tuhan tidak merestui, ya tidak akan ada anak. Namun, sekuat apapun kita menolak kehadirannya kalau Tuhan menguji kita ya hadir juga si kecil.
Kamu sering mendengar temanmu yang “kebobolan” meskipun telah memakai “pengaman” a.k.a KB? Kamu punya tetangga yang berkali-kali mencoba bayi tabung tapi mendapati kegagalan?
Begitulah hidup. Semua adalah kehendaknya.
Ada yang menikah langsung “diganjar” anak. Ada yang sudah 10 tahun berusaha mati-matian “membuat anak” tapi tetap belum kelihatan hasilnya. Ada yang menikahi duda/janda beranak. Ada yang mengadopsi bayi.
Anak adalah ujian. Ia bisa menjadi berkah maupun kutukan. Keberkahan datang bagi orang tua yang mendidik dengan benar sesuai ajaran agama. Kutukan akan hadir bagi orang tua yang menelentarkannya, tak mengenalkan dengan agama, atau yang menyalahgunakannya.
Anakmu adalah titipan. Ia datang mengujimu. Untuk mendekatkanmu kepada-Nya.
Bagaimana menurutmu?
Agung Setiyo Wibowo
Jakarta, 4 Februari 2020
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
Edit