Merasa Bisa, Bisa Merasa

Dulu aku pernah tinggal di “penjara suci”, sebutan untuk pondok pesantren. Disebut penjara karena bagi teman-teman yang bandel, asrama laksana jeruji yang sarat dengan aturan. Disebut sucu karena misi lembaga pendidikan Islamnya.

Aku menikmati empat tahun sebagai santri. Setahun pertama hanya untuk mendalami pelajaran khas pesantren. Tiga tahun berikutnya juga mempelajari “ilmu duniawi”.
Bagiku, hidup di pesantren adalah dalah satu fase terindah dalam hidup. Meskipun ada begitu banyak drama yang mengiringi. Peralihan dari masa remaja ke dewasa menjadikannya makin tak terlupakan.
Tak terhitung ilmu dan pengalaman yang kudapatkan di asrama. Namun yang terpenting adalah mengenai fondasi ketuhanan, bermasyarakat, dan pengembangan diri.
Salah satu pesan bermakna yang masih kuingat hingga kini adalah “Janganlah merasa bisa, tapi bisalah merasa.” Maksudnya?
Tak baik bagi manusia untuk mengakui bahwa kita bisa. Karena sejatinya kita lemah, Tuhanlah yang sesungguhnya bisa. Seharusnya kita bersyukur diberi kemampuan untuk menjadi, melakukan atau memiliki sesuatu.
Merasa bisa berarti keakuan yang menonjol. Egolah yang menguasai. Itulah sumber kejahatan, kemungkaran, ketakutan, kecemasan, kegalauan, keraguan dan seterusnya.
Jadi, seharusnya bagaimana? Kita semestinya bisa merasa. Artinya merasa bahwa kita lemah. Kita sejatinya fana. Semua yang kita miliki atau bisa lakukan hanyalah ujian dari-Nya. Segalanya adalah titipan. Tak lebih dari pinjaman.
Jadi, apa guna merasa bisa? Bisalah merasa!
Agung Setiyo Wibowo
Depok, 4 Februari 2020
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
Edit