Penerimaan Diri

Stres?

Kecewa?
Sakit hati?
Menyesal?
Depresi?
Marah?
Kesal?
Saya yakin kamu pernah mengalami setidaknya salah satu dari keadaan di atas. Sebagaimana halnya saya.
Dalam hidup, kita tak dapat mengendalikan peristiwa yang terjadi. Kita pun tak dapat mengontrol sikap orang lain. Kabar baiknya, kita bisa sepenuhnya menentukan respons kita.
Misalnya kamu tak ingin terlambat pergi ke kantor. Oleh karena itu, kamu mengantisipasi segala cara agar bisa datang tepat waktu. Namun, di tengah jalan kamu mendapati kemacetan jalan karena imbas kecelakaan beruntun. Bagaimana sikapmu? Apakah mengeluh atau menerimanya dengan lapang dada?
Contoh lainnya, kamu ingin mencari jodoh. Kamu berusaha mati-matian untuk memantaskan diri. Memperbaiki penampilan, memperbaiki mental, mengikuti seminar pra-pernikahan, meningkatkan kemapanan, mendekati lawan jenis, meminta bantuan makcomblang hingga memohon untuk dijodohkan. Setelah bertahun-tahun, kamu mendapati hasil nol. Bagaimana responmu? Apakah makin down atau justru bersemangat untuk menemukan separuh jiwamu?
Saya yakin, kamu punya contoh unik. Demikian halnya orang lain di luar sana.
Teman, penerimaan diri adalah salah satu kunci kebahagiaan. Di titik itu kamu tidak menilai atau menghakimi apapun yang menghampirimu. Kamu tidak berekspektasi. Namun kamu menerima tanpa syarat segala pengalaman hidup yang dihadiahkan untukmu.
Penerimaan diri adalah syarat kebahagiaanmu. Sudahkah kamu membuktikannya?
Agung Setiyo Wibowo
Jakarta, 5 Februari 2020
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
Edit