Ilusi Kepemilikan

“Sudah 10 tahun merantau, lo sudah punya apa aja?”

Itu adalah pertanyaan yang kulontarkan kepada diri sendiri. Di abad digital seperti sekarang agaknya sebagian besar orang memamerkan kepemilikannya yang ditampilkan di akun-akun media sosialnya. Mereka pikir, orang lain bisa takjub atau setidaknya bilang “Wow!”.
Bagaimana denganmu? Apakah kamu merasa menjadi “remah-remah” ketika membandingkan kepemilikan diri sendiri dengan orang lain? Pernahkah kamu merasa down karena tak memiliki harta benda berarti?
Dalam salah satu fase kehidupan, jujur saya pun pernah mengalaminya. Namun setelah melewati titik balik, kepemilikan bukan menjadi isu yang saya pedulikan lagi. Apa pasal?
Semua yang kita miliki tak lebih dari titipan. Segala harta benda yang kita bangga-banggakan cuma “numpang lewat”. Apa guna diagung-agungkan? Apa manfaatnya menuhankan kepemilikan?
Sejatinya dunia dan segala isinya ini fana. Sesungguhnya yang berwujud di alam ini adalah Tuhan. Jadi, jika kita masih merasa memiliki itu artinya ego atau keakuan kita yang mengendalikan diri. Dan itulah sumber kesengsaraan.
Alih-alih menumpuk kepemilikan, mengapa kita tidak memperkaya pengalaman? Daripada menuhankan segala hal yang fana, mengapa kita tidak menuhankan pencipta segala hal?
Ilusi kepemilikan. Sudahkah kamu menyadarinya?
Agung Setiyo Wibowo
Jakarta, 5 Februari 2020
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
Edit