Ilusi Pencapaian

Ego.

Hawa nafsu.
Keakuan.
Tiga kata ini nampaknya mewakili karakter asli manusia. Ingin menang sendiri. Mau kaya sendiri. Suka seenaknya sendiri.
Manusia memang rakus. Sebaik apapun pencapaiannya, kita senantiasa merasa kurang dan kurang.
Yang penghasilan perbulannya Rp 10 juta merasa kurang. Ia pikir Rp 1 miliar perbulan dapat mendamaikan jiwanya. Ternyata tidak. Begitu penghasilan naik, gaya hidup semakin naik. Down lagi deh. Resah lagi. Merasa menjadi remah-remah lagi.
Yang belum memiliki mobil, berjuang setengah mati untuk membelinya. Kerja lebih keras lagi. Rela mengurangi kebersamaan dengan anak dan istri. Mau hutang ke bank dan dikejar-kejar Debt Collector yang bikin ngeri. Akhirnya merasa rendah diri. Ternyata mengikuti gengsi tak menjadikannya berpuas diri.
Yang masih jomblo merasa kesepian. Mereka mendambaikan pasangan yang mau diajak menikah. Mereka pikir menikah bisa mendatangkan kedamaian batin. Setelah menikah, justru menjadikan mereka makin tertekan.Tuntutan pasangan seakan-akan di luar batas kemampuan. Himpitan ekonomi tak terelakkan. Perbedaan prinsip menjadi sumber petaka. Eh, kok akhirnya merindukan lagi masa membujang tanpa beban yang bebas mau berbuat apa saja.
Begitulah hidup. Kita dihantui ilusi pencapaian yang sulit dibendung. Ini diperparah dengan demam digital yang mendorong diri sendiri untuk kepo hinga membanding-bandingkan diri dengan pencapaian rekan-rekan.
Kita seringkali lupa dengan apa yang kita miliki. Itu mengapa kita tidak happy.
Kita senantiasa lalai dengan tujuan hidup. Sehingga, hari demi hari terasa membosankan hingga tak bermakna.
Kita acapkali tidak tahu dari mana kita berasal dan ke mana kita akan pergi. Sehingga, pencapaian demi pencapaian seperti tak berarti.
Teman, hidup ini singkat. Apa yang kau cari?
Agung Setiyo Wibowo
Bogor, 29 Januari 2020
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
Edit