Momento Mori

“Sekali berarti, setelah itu mati.” Pernahkah kamu mendengar ungkapan ini? Jika ya, selamat deh. Jika belum, izinkan kututurkan sekilas.

Suka tidak suka, mau tidak mau, siap tidak siap kita akan binasa. Aku, kamu dan kita semua sedang antri menghadapi maut.
Percayakah kamu dengan kematian? Kemanakah dirimu setelah nyawa melayang? Adakah kehidupan lain pasca meninggalkan bumi?
Kematian memang misteri. Bahkan jauh sebelum kita dilahirkan, Tuhan telah menentukan usia kita di dunia. Termasuk dengan siapa kita menikah, seberapa banyak rezeki yang kita peroleh dan bagaimana jalan hidup kita.
Ketika kecil, aku sering diingatkan dengan pesan ini. “Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan kau akan hidup selamanya, bekerja untuk akhiratmu seakan-akan esok kau akan tiada.”
Semakin kita bertambah umur, sesungguhnya usia kita makin berkurang. Semakin dekat pula kita dengan ajal.
Jika hari ini adalah hari terakhirmu, apa yang ingin kamu lakukan? Seberapa baik kamu ingin menjadi sebagai hamba Tuhan, suami, istri, anak, kakak, adik, ayah, ibu, atasan, warga negara dan pribadi?
Kematian tak terelakkan. Momento mori. Sejauh ini, apa yang kau persiapkan?
Tabik.
Agung Setiyo Wibowo
Lenteng Agung, 22 Januari 2020
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
Edit