Keakuanmu, Keakuanku

Stres?

Resah?
Kecewa?
Galau?
Hampa?
Takut?
Enam kata ini nampaknya menjadi penyakit manusia modern. Dengan ambisi menaklukkan dunia atas nama mengejar kesenangan semu, kita seringkali kambuh dengan yang di atas.
Kita takut jika kehilangan pekerjaan. Kita hampa menjalani rutinitas. Kita galau dengan tujuan hidup. Kita kecewa dengan diri sendiri karena merasa belum secemerlang orang lain. Kita resah membayangkan masa depan yang sarat dengan ketidakpastian. Atau mungkin kita stres menghadapi tuntutan pasangan, anak, orang tua, bos, bawahan, dan masyarakat di sekitar.
Tahukah kamu akar semua itu? Jawabannya sederhana saja. Tak lain adalah keakuan.
Rumusnya begini. Semakin tinggi rasa keakuanmu, semakin besar peluangmu untuk terjerembab dalam lembah pesimisme, negativisme dan kesengsaraan. Apa pasal?
Karena keakuan adalah ego. Ego adalah nafsu. Dan kamu tahu itu apa? Itu adalah musuh kebahagiaan.
Kawan, tak ada gunanya keakuan ini. Karena sesungguhnya dunia ini fana.
Kawan, keakuan adalah simbol keterlekatan kita pada dunia. Itu adalah akar kesengsaraan.
Kawan, sesungguhnya kita dan dunia seisinya ini tiada. Yang ada adalah Tuhan.
Kawan, apa guna keakuan? Karena sesungguhnya kita tak memiliki apa-apa. Di dunia ini kita diuji. Ya, selama nyawa ada di kandung badan kita akan dihadapkan dengan ujian.
Kawan, dunia ini begitu singkat. Di sini kita hanya singgah sebentar.
Kawan, sudahkah kamu menyadari keakuanmu? Jika ya, selamat! Jika belum, saatnya merenungkannya.
Keakuan? Lenyapkan.
Tabik.
Agung Setiyo Wibowo,
Pasar Minggu, 20 Januari 2020
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
Edit