Menyikapi Ketakutan

Takut. Apa yang ada di benakmu ketika mendengar kata ini?

Aku tak tahu apa masalah spesifikmu. Yang kutahu, sebagai manusia biasa kita memang senantiasa “mengantisipasi” hal-hal negatif atau marabahaya yang tidak kita inginkan dalam hidup. Untuk itulah, kita bersikap takut.
Sebagian dari diri kita takut kehilangan pekerjaan. Sebagian lainnya takut kehilangan anggota keluarga untuk selama-lamanya. Sebagian lagi takut bisnisnya bangkrut, anak-anaknya tak mendapatkan pendidikan terbaik hingga diselingkungi pasangan. Tak sedikit yang takut dengan kematian.
Ketakutan sesungguhnya manusiawi selama kita mampu mengendalikannya. Itu menjadi sahabat ketika kita terbantu dalam memitigasi risiko. Namun, itu justru menjadi petaka ketika kita justru merasa tak berdaya dalam bertindak.
Sekarang, jujurlah dengan diri sendiri. Apa yang membuatmu takut? Apakah karena harta, tahta, popularitas, dan segala bentuk materi duniawi yang fana? Ataukah takut dengan yang memberi rasa takut?
Hidup terlalu singkat jika kita takut dengan alasan yang keliru. Apa yang menakutkanmu?
Tabik.
Agung Setiyo Wibowo
Citayam, 20 Januari 2020
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
Edit