Kecukupan

Kurang, kurang dan kurang. Itulah manusia. Kita senantiasa merasa tidak cukup dengan apa yang kita miliki saat ini.

Kita bekerja setengah mati atas nama memperbaiki taraf hidup. Membeli segala kebutuhan dan lebih sering keinginan yang tak terbatas. Seiring semakin besarnya pendapatan, semakin besar pula nafsu kita untuk membelakan. Di situlah akar masalahnya mengapa kita tidak pernah merasa cukup meski sesungguhnya telah berkecukupan.
Waktu pendapatan pas-pasan, makan di Warteg aduhai nikmatnya. Tatkala penghasilan di atas angin, makan di hotel bintang lima pun tidak jarang masih terasa hambar.
Waktu pendapatan pas-pasan, punya Avanza girangnya bukan main. Tatkala penghasilan di atas angin, punya Lamborghini belum bisa memuaskan.
Waktu pendapatan pas-pasan, liburan ke Bali terasa seperti di alam surga. Tatkala penghasilan di atas angin, plesiran ke Las Vegas belum mampu memberikan kepuasan.
Waktu penghasilan pas-pasan, tinggal di rumah kecil sudah bisa tersenyum. Tatkala penghasilan di atas angin, tinggal di rumah seharga 50 miliar masih merasa kurang.
Lantas, seberapa besar batas cukup kita? Akankah kepuasan tak pernah terpenuhi? Kapan kebahagiaan menghampiri jika kita masih serakah?
Manusia memang ditakdirkan bersifat hewani. Entah kita sadari atau tidak. Untuk itulah tugas nurani untuk mengikuti jiwa yang bersih, bukan hawa nafsu yang membuat hati panas.
Mampukah? Siapkah?
Tabik.
Agung Setiyo Wibowo
Depok, 15 Januari 2020
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
Edit