Karma

Hei, kamu.
Apakah kamu pernah mendengar kata karma?
Jika ya, percaya kah?
Jika ya, apa alasannya?
Jika tidak, apa yang menjadi faktornya?
Saya sih percaya dengan karma.
Dari kaca mata sains saja menguatkan loh. Jadi, karma itu semacam energi yang konon abadi. Energi hanya berubah bentuk, tidak hilang, tidak musnah.
Jadi, jika kita suatu hari menaburkan kebajikan kepada si X senilai Y. Entah kita sadari atau tidak, kelak kita akan mendapati “balasan” yang setimpal. Mungkin bentuknya bisa Dewata ubah dalam bentuk lain. Penerimanya pun bisa jadi tidak langsung melalui diri kita. Bisa pasangan, anak, atau bahkan cucu.
Karma, karma, karma.
Jika apa saja yang kita lakukan kelak mendapatkan balasannya, masih beranikah kita mengingkari nurani?
Jika apa pun yang kita tanam nanti akan kita panen, maukah kita menanam asal-asalan?
Jika segala pikiran, tindakan, ucapan dan sikap kita ke depannya akan ditimbang; masihkah kita seenaknya sendiri?
Karma. Mungkin di setiap kepercayaan bahasanya berbeda-beda. Namun yang pasti, hukum ini berlaku universal.
Tak peduli siapa diri Anda, tidak ada orang yang “kebal” dengan hukum ini.
Apa yang kamu tanam, kelak itulah yang akan kamu panen.
Demi karma. Hidupmu, hidupku, hidup kita semua. Semua akan dipertanggungjawabkan kepada-Nya.
Agung Setiyo Wibowo
Mega  Kuningan, 12 September 2019
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
Edit