Lukisan Itu Bernama Anak

Kata orang-orang bijak, ketika seorang manusia dilahirkan ia ibarat kertas putih. Bagaimana kualitas “olahan” kertas itu kelak bergantung bagaimana orang tua melukiskannya.
Mungkin, ini terdengar sangat klise. Namun, itulah kehidupan. Mau jadi apa seseorang kelak sangat ditentukan oleh bagaimana orang tua berperan dalam masa emas perkembangan buah hatinya.
Benar, pendidikan formal dan pengaruh lingkungan tak kalah penting. Kendati demikian, menurut penelitian dari berbagai pihak, peran orang tua begitu sentral.
Tentu, semua orang hanya mau melihat lukisan terindah. Mana ada orang yang mendambahkan lukisan terburuk?
Sayangnya, belum tentu semua orang memahami peran hakikinya sebagai orang tua. Akibatnya, mereka seenaknya sendiri dalam mendampingi tumbuh kembang sang anak.
Semakin baik orang tua dalam mendidik anak, semakin baik pula “ganjaran” yang diterimanya kelak. Entah di alam dunia, maupun di alam keabadian.
Akhir kata, saya teringat dengan untaian kata indah karya sang maestor Khalil Gibran berikut.

Anakmu bukanlah milikmu,

mereka adalah putra putri sang Hidup,

yang rindu akan dirinya sendiri.

 

Mereka lahir lewat engkau,

tetapi bukan dari engkau,

mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.

 

Berikanlah mereka kasih sayangmu,

namun jangan sodorkan pemikiranmu,

sebab pada mereka ada alam pikirannya sendiri.

 

Patut kau berikan rumah bagi raganya,

namun tidak bagi jiwanya,

sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,

yang tiada dapat kau kunjungi,

sekalipun dalam mimpimu.

 

Engkau boleh berusaha menyerupai mereka,

namun jangan membuat mereka menyerupaimu,

sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,

ataupun tenggelam ke masa lampau.

 

Engkaulah busur asal anakmu,

anak panah hidup, melesat pergi.

 

Sang Pemanah membidik sasaran keabadian,

Dia merentangkanmu dengan kuasaNya,

hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.

 

Bersukacitalah dalam rentangan tangan Sang Pemanah,

sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat,

sebagaimana dikasihiNya pula busur yang mantap.

Agung Setiyo Wibowo
Mega Kuningan, 17 September 2019
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
Edit