Demi Waktu

Waktu. Kadang-kadang disebut masa. Baru-baru ini  — khususnya sejak menikah dan memiliki keturunan – saya makin menyadari bahwa waktu merupakan aset paling berharga dalam hidup.
Kita mungkin bisa kehilangan uang. Entah karena bisnis bangkrut, ditipu orang, atau lantaran berbagai musibah lainnya. Namun, jika uang nihil dalam genggaman; kita masih bisa mengejarnya untuk kembali bahkan meningkatkan nilainya.
Lalu, bagaimana dengan waktu?
Sayangnya, waktu tak bisa diputar ulang seperti video. Hari yang telah kita lewati tak mungkin kita “perbaiki”. Yang bisa kita lakukan adalah memanfaatkan “sisa” waktu yang kita sendiri tidak pernah tahu berapa lama.
Kabar baiknya. Tuhan begitu adil. Kita semua mendapatkan 24 jam perhari. Tidak lebih, tidak kurang. Meskipun di sisi lain kita tak pernah tahu berapa jatah waktu hidup di dunia.
Ya, kematian memang misteri. Kita tak mungkin bisa mempercepat kedatangannya. Kita pun tak pernah bisa meminta penundaan.
Jika sudah begini, apa yang masih kita banggakan?
Waktu memang benar-benar  tak terbeli. Sekali ia berlalu, ia tak pernah bisa kembali.
Waktu adalah saksi yang hakiki. Tentang bagaimana hidup kita isi.
Waktuku, waktumu, waktu kita. Semuanya telah tertulis dalam suratan takdir-Nya.
Demi waktu. Demi masa.
Agung Setiyo Wibowo
Mega  Kuningan, 5 September 2019
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
Edit