Tepo Seliro

Tepo seliro. Falsafah Jawa yang satu ini belakangan begitu mencuri perhatian saya. Pasalnya, akhir-akhir ini memiliki pengalaman yang berkaitan dengannya.
Secara harfiah, tepo seliro bisa diartikan sebagai sikap tenggang rasa. Artinya, seseorang seyogyanya dapat memahami perasaan orang lain dalam bertindak, berkata atau dalam segala gerak-gerik yang mempermainkan panca indra.
Sekilas, falsafah ini begitu mudah dilaksanakan. Namun, apakah memang demikian?
Jawabannya relatif. Di masyarakat yang secara budaya homogen mungkin lebih mudah diterapkan. Karena mereka memiliki nilai-nilai yang kurang lebih sama. Berbeda halnya dengan masyarakat perkotaan yang relatif lebih plural.
Namun, definisi perkotaan versus pedesaan agaknya belakangan ini mulai bias. Karena geografis bukan serta-merta masalah ruang yang dapat diraba. Namun, lebih cenderung berkaitan dengan pandangan hidup.
Tidak setiap orang yang tinggal di desa tidak materialistis. Sebaliknya, tidak setiap orang yang tinggal di kota tidak saleh. Ini berlaku untuk semua aspek kehidupan tentunya.
Seperti yang saya alami sendiri. Lahir dan besar di lingkungan Jawa mataraman yang cukup kental, saya menyaksikan sendiri betapa dahsyatnya proses pergeseran nilai Jawa sebagai imbas globalisasi.
Tepo seliro yang terlihat begitu sederhana diterapkan oleh masyarakat desa kini tidak sepenuhnya berlaku lagi. Tentunya karena pengaruh media, pendidikan, dan berderet benturan berbalut pengalaman hidup masing-masing insannya.
Lantas, bagaimana solusinya? Apakah tepo seliro masih bisa dipertahankan ke depannya?
Tentu, bisa dong. Kuncinya ialah dengan rendah hati mau membuka diri dalam menerima perbedaan kepribadian, karakter, dan budaya orang lain.
Komunikasi  mungkin bisa menjadi jembatannya. Karena melalui proses inilah pesan dikirim dan diterima.
Mungkin ada benarnya ungkapan ini. Bahwa, kenyataan tidak lain adalah persepsi yang dipancarkan oleh masing-masing individu. Apa yang Anda maksud sebagai kenyataan belum tentu berlaku bagi saya, dan sebaliknya.
Lantas, bagaimana dengan praktik tepo seliro tadi? Tanyakan pada rumput yang bergoyang.
Agung Setiyo Wibowo
Mega Kuningan, 2 September 2019
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
Edit