Suratan Takdir yang Terlupakan

Bahagia. Siapa sih yang tak ingin bahagia? Saya rasa semua orang mendambakannya. Dari presiden hingga pemulung, pedagang hingga jenderal, atau penyanyi hingga pemuka agama.
Sadar atau tidak sadar, segala hal yang kita lakukan saat ini untuk mencapai apa yang menurut kita bisa mendatangkan kebahagiaan. Entah bekerja, beribadah, olahraga, berbelanja, jalan-jalan, menolong sesama, membaca atau sekedar istirahat di malam hari.
Sayangnya, kita senantiasa sibuk untuk mengejar kebahagiaan dari luar diri. Entah uang, jabatan, ketenaran, atau apapun itu namaya.  Sebaliknya, kita sering lupa bahwa yang kita cari selama ini sesungguhnya sudah ada di dalam diri.
Contohnya sederhana.  Mengapa kegalauan melanda jiwa kita semua? Bukankah segala sesuatu telah tertulis dalam suratan takdir?
Kita seringkali mencemaskan apa yang belum terjadi. Gelisah dengan stabilitas penghasilan, perangai pasangan, masa depan anak, komentar orang lain tentang kita, hingga hal-hal negatif yang sesungguhnya bisa terjadi. Yang lebih membuat runyam, kita senantiasa membandingkan apa yang dicapai oleh orang lain dengan prestasi diri sendiri.
Suratan takdir sungguh nyata adanya. Bukankah kita pernah tiba-tiba mendapatkan sesuatu meskipun kita tidak mengharap? Sebaliknya, bukankah kita seringkali tidak mendapatkan apa yang kita inginkan meski telah mati-matian berupaya untuk mendapatkannya?
Jika segala sesuatu telah dituliskan oleh Dewata, mengapa harus galau?
Jika segala sesuatu telah digariskan oleh Tuhan dalam rencana besarnya, mengapa kita mesti gundah?
Jika kunci kebahagiaan sudah ada pada diri kita masing-masing, mengapa jiwa kita tidak kunjung menyadarinya?
Mungkin, kita baru akan merasa ketika hayat berada pada detik-detik terakhir dikandung raga. Entahlah.
Agung Setiyo Wibowo
Mega Kuningan, 3 September 2019
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
Edit