Gusti Mboten Sare

Belum lama  ini hati saya bergetar. Pasalnya, ada begitu banyak perubahan yang saya alami dalam setahun terakhir.
Lantas, apakah saya takut dengan perubahan? Ah, tidak juga. Justru, saya termasuk tipe orang yang bosan jika mendapati hal yang “itu-itu” saja.
Perubahan memang tak bisa dihindari dalam hidup ini. Suka-tidak suka, mau-tidak mau kita mesti melewatinya. Dari yang skala mikro hingga makro.
Perubahan tak hanya dalam lingkup pekerjaan atau bisnis. Namun, juga dalam segala aspek kehidupan. Seperti yang baru-baru ini saya alami sendiri dalam konteks sosial.
Singkat cerita, saya dan ketiga saudara perempuan saya sedang berupaya untuk menenangkan orang tua. Masalahnya sepele, ia merasa “disakiti” oleh saudaranya sendiri.
Diskusi di antara kami sekeluarga bersambut. Whatsapp, Video Call, hingga telepon menjadi saksinya. Ada satu pesan yang saya pelajari dalam proses ini. Tidak lain adalah sikap ayah saya yang berusaha mengalah dengan berujar, “Ya sudahlah. Gusti mboten sare (Tuhan tidak tidur).”
Ungkapan di atas, begitu mengena dalam lubuk hati saya. Agar kita semua tidak takut untuk melangkah menaburkan kebaikan kepada sesama. Karena toh, pada akhirnya hukum karma tetap berlaku. Hukum tabur-tuai akan senantiasa berjalan.
Sebagai milenial, sejujurnya saya sudah sejak lama memahami salah satu falsafah Jawa tersebut. Namun, dalam praktiknya memang sering terlupakan.
Di tengah arus globalisasi seperti saat ini, agaknya perubahan sosiologis masyarakat pedesaan seperti di kampung halaman saya tak terhindarkan juga. Dulu, sifat kekeluargaaan atau kegotongroyongan masih mengakar dengan kuatnya.
Bagaimana dengan kini?
Agaknya hubungan transaksional seperti yang terjadi di perkotaan sudah hampir sama levelnya. Masyarakat mulai “hitung-hitungan” karena satu dan lain hal.
Entah, sampai kapan nilai-nilai budaya Jawa bisa bertahan. Gempuran budaya Barat yang dipromosikan melalui segala corong media agaknya telah berhasil “mencuci otak” masyarakat.
Bukan kesalahan mereka atau kita semua memang. Karena toh budaya bersifat dinamis. Senantiasa ada proses konstruksi sosial – entah alamiah maupun yang terprogramkan.
Yang pasti, “Gusti mboten sare” akan senantiasa berlaku dari dulu hingga nanti. Melewati sekat-sekat waktu.
Agung Setiyo Wibowo
Mega Kuningan, 2 September 2019
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
Edit