Win-Win

Dalam hidup ini, perbedaan pandangan akan selalu ada. Apapun topiknya, setiap individu memiliki pandangan masing-masing terhadap suatu hal.
Pandangan bisa dihubungkan dengan persepsi. Sebuah elemen yang dipengaruhi oleh nilai-nilai, keyakinan dan pengalaman masa lalu.
Ketidakmampuan mengelola perbedaan menjadi sumber petak yang tak berkesudahan. Konflik antarsuku, perang antarnegara, pertengkaran antarsahabat hingga perceraian dalam biduk rumah tangga.
Kita mengenal pendekatan Win-Win. Artinya, kedua belah pihak yang bertentangan pandangan sama-sama menyepakati sebuah solusi. Masing-masing merasa “menang”. Tidak ada yang merasa dirugikan.
Tentu saja, semua individu mengharapkan yang terbaik jika mendapati masalah. Namun, yang terbaik menurut siapa? X, Y, atau Z?
Di sinilah kepekaan berperan. Kita tidak serta merta menilai orang hitam putih, benar salah, atau baik buruk. Karena setiap insan memiliki versinya masing-masing.
Bagaimana cara mencapai Win-Win? Tentu melalui tahap-tahap komunikasi yang tidak mudah. Mungkin prosesnya bisa menguras emosi. Namun, demi kebaikan tetap harus diperjuangkan.
Apa pasal?”
Karena dalam hidup, Zero-Sum Game tidak dapat diterapkan dalam keseharian. “Dia menang, saya kalah” atau “Saya menang, dia kalah” tidak bisa lagi menjadi pedoman.
Akhir kata, saya teringat dengan pesan kakak kandungku ketika menasehatiku baru-baru ini. “Jika kamu dan si X sama-sama mau menang sendiri, sesungguhnya kalian sama-sama kalah”. Untuk itu, kadang salah satu pihak harus legowo untuk mengalah. Untuk mewujudkan apa yang disebut dengan Win-Win.
 
Agung Setiyo Wibowo
Mega Kuningan, 30 Agustus 2019
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
Edit