Antara Ketakutan dan Harapan

            Setiap orang memiliki masalah masing-masing. Tapi, mengapa tidak semuanya merasakan apa yang disebut dengan kebahagiaan?

Jawabannya sangat sederhana. Setidaknya dalam perspektif saya.  Beberapa waktu yang lalu misalnya, saya dikejutkan oleh tulisan nyentrik di sebuah badan truk di pinggiran Jakarta. Saya memang lupa bagaimana kalimat persisnya karena ditulis dalam bahasa Jawa.

Yang pasti, truk tersebut mengingatkan saya akan satu hal yaitu keikhlasan. Apa pasal?

Karena jika kita mau jujur, ada berapa ratus juta orang yang gagal bahagia karena ketakutan? Takut gagal. Takut bisnisnya bangkrut. Takut kehilangan pekerjaan. Takut tidak lulus ujian. Atau takut masa depan.

Sebaliknya, ada juga orang-orang yang terlalu berharap dengan masa depan. Mereka terbawa arus halusinasi. Apa pasal? Berharap  memang sah-sah saja. Namun, ketika apa yang kita lakukan semata-mata harapan itu sendiri, biasanya kita akan dihadapkan pada kekecewaan yang mengerikan. Dalam dimensi waktu berikutnya, ini juga bisa memicu penyelasan lantaran harapan tidak sesuai dengan kenyataan.

Jadi, harus bagaimana dong?

Ya itu tadi. Ikhlas. Ikhlas. Ikhlas. Hidup ini untuk dijalani saja, kok!

Hidup tidak cukup untuk dipikirkan. Tapi untuk diisi sebaik mungkin dengan tingkat kepasrahan tertinggi.

Lakukan saja yang terbaik. Jangan takut melangkah. Jangan terlalu banyak berharap. Itu aja. Sederhana kan?

 

Mega Kuningan, 10 Mei 2019

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
Edit