Jalani Saja, Jangan Kebanyakan Mikir!

Belum lama ini saya pindah rumah dari Jakarta ke Depok. Sebagai bagian dari mengenali lingkungan sekitar, saya berinisiatif untuk mengisi akhir pekan dengan jalan-jalan.

Sabtu pagi itu saya meninggalkan rumah sekira pukul 09.30 WIB. Meski cuacanya sedang mendung, namun jalan yang saya lewati benar-benar dilanda macet yang luar biasa. Pasalnya, itu merupakan jalan utama di kota kecamatan yang saya tinggali.

Di tengah kegalauan yang sedang mendera, emosi saya tentu tidak stabil. Kemacetan seakan-akan menjadi “pelengkap” dari suasana hati yang naik-turun.

Sebenarnya kemacetan bukan hal yang baru bagi saya. Namun, selama satu dekade saya lebih banyak menikmati kemacetan bukan sebagai pengemudi, melainkan sebagai penumpang. Jadi, kemacetan di sabtu pagi itu benar-benar sesuatu yang baru.

Beruntung, waktu itu ada suara “abang-abang” yang memberi motivasi melalui alat pengeras suara. Saya kurang tahu persis di mana ia berada. Namun yang pasti, sepertinya ia duduk di pinggiran jalan.

Laki-laki yang suaranya sekeras penjual jamu tersebut mengeluarkan kata-kata sakti yang membuat saya laksana ditampar.

Bapak, ibu. Hati-hati di jalan ya. Mohon kesabarannya melewati kemacetan ini.

Hidup ini sangat singkat. Jadi, jangan banyak berpikir. Jalani saja.

Toh, kita tidak pernah tahu kapan ajal menjemput.

Semua telah digariskan-Nya.

Sejatinya pesan  pria yang tak saya kenal itu sederhana saja. Namun, entah kenapa makna yang terkandung begitu mendalam. Saya seperti diingatkan untuk ‘eling’, untuk lebih ikhlas menjalani hidup. Tak lupa, untuk terus berikhtiar dan bertawakkal. Untuk terus menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari. Makin mampu menebarkan manfaat dan menolong orang-orang yang membutuhkannya.

 

Depok, 26 Januari 2019

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
Edit