Jadi, Kamu Pilih Jurusan HI?

Agung Setiyo Wibowo

Proses transisi dari siswa menjadi mahasiswa merupakah salah satu momen penting di kalangan akademisi. Banyak sekali hal berbeda yang akan dihadapi khususnya di awal masa perkuliahan. Tidak jarang hal ini menyebabkan shock di kalangan beberapa mahasiswa baru (maba), mulai dari kultur belajar, bobot materi di dalam perkuliahan, interaksi sosial antar mahasiswa/mahasiswi, kegiatan organisasi dan lainnya. Untuk meminimalisir shock tersebut biasanya di kampus diadakan berbagai kegiatan dalam menyambut maba yang biasa disebut masa orientasi (atau apalah namanya). Hal ini diharapkan dapat mengenalkan maba kepada lingkungan barunya sehingga dapat mempermudah proses adaptasi dari maba dengan agenda-agenda yang ada di kampus.

 

Jika masa orientasi tersebut diadakan oleh kampus untuk mengenalkan maba terhadap dunia perkuliahan, begitu pula dengan buku yang ditulis oleh Agung Setiyo Wibowo. M.Si. Buku dengan judul “Jadi, Kamu Pilih Jurusan HI?” ini layaknya buku panduan bagi para calon maba yang berminat untuk bergabung dalam jurusan Hubungan Internasional. Buku ini ditulis oleh salah seorang HI-sir yang merupakan salah satu dosen yang aktif mengajar di Universitas Satya Negara Indonesia Jakarta. Hubunganinternasional.id mencoba mewawancarai penulis terkait buku karangannya tersebut. Mari simak wawancaranya!

 

Hubunganinternasional.id (hi.id): Bisa anda jelaskan apa motivasi anda menulis buku ini?

 

Agung Setiyo Wibowo (ASW): Buku ini merupakan salah satu bukti kegelisahan saya dengan kualitas lulusan hubungan internasional. Faktornya tidak lain ialah nihilnya buku panduan (populer) yang mengenalkan calon mahasiswa tentang jurusan hubungan internasional. Sehingga, banyak yang mengambil jurusan ini karena ikut-ikutan teman, dipaksa orang tua, atau sekedar coba-coba. Akibatnya, kualitas mereka ketika tamat belum dapat mencapai titik optimal.

 

Mengapa saya gelisah? Karena saya menemukan banyak teman seangkatan kuliah maupun mahasiswa HI pada umumnya yang memprihatinkan proses belajarnya. Hal ini dipicu oleh minimnya pengetahuan mereka mengenai potensi diri sendiri (seperti minat, bakat, passion) dan “kebutaan” mereka tentang jurusan hubungan internasional.

 

(hi.id): Beberapa hal yang ditulis dalam buku anda menggambarkan dunia perkuliahan khususnya di jurusan Hubungan Internasional dengan sangat baik. Apakah ini berasal dari sebuah pengalaman pribadi anda ketika duduk di bangku kuliah?

 

(ASW):  Semua buku saya berbasis riset, termasuk buku “Jadi, Kamu Pilih Jurusan HI? Cerita Seorang Alumnus Hubungan Internasional dan Teman-temannya.” Tentu ada cerita pribadi yang mewarnai. Namun, hasil riset lebih menonjol. Karena data yang saya ambil melibatkan alumni HI lintas generasi, almamater dan profesi dari seluruh wilayah di tanah air.

(hi.id): Menurut pendapat anda, apa tantangan terbesar yang dihadapi oleh maba ketika awal bergabung dalam jurusan Hubungan Internasional?

 

(ASW):  Kebutaan mengenai jurusan hubungan internasional menyebabkan mereka kaget. Karena persepsi mereka mengambil program studi ini tidak jarang yang berbeda dengan kenyataan di lapangan. Banyak yang menikmati proses perkuliahan hingga tamat. Namun, tidak sedikit yang berhenti di tengah jalan karena merasa “salah jurusan”.

 

Image: Agung Setiyo Wibowo, Penulis Buku “Jadi, Kamu Pilih Jurusan HI?”

 

(hi.id): Writing and Speaking! Seberapa penting skill ini bagi mahasiswa Hubungan Internasional?

 

(ASW):  Di era Masyarakat Ekonomi ASEAN ini, dunia telah berubah dengan sedemikian cepatnya. Oleh karena itu, memiliki sifat agile tidak bisa ditawar lagi untuk memenangkan era disrupsi yang dikenal dengan VUCA (VolatilityUncertaintyComplexity & Ambiguity) ini. Tentu alumni hubungan internasional bisa beraktualisasi di bidang apa saja ketika unggul dalam Writing dan Speaking. Entah menjadi diplomat, aktivis NGO, staf organisasi internasional, jurnalis, penyiar, dosen, peneliti, trainer, penulis, pemasar, atau yang lainnya. Itu mengapa saya (masih) ingat dan sepakat dengan pendapat Charles Darwin bahwa bukan yang terkuat yang mampu bertahan, melainkan yang paling mampu menyesuaikan diri dalam menanggapi perubahan.

 

(hi.id): Organisasi kemahasiswaan menyita waktu dan energi yang cukup banyak pada masa perkuliahan. Tidak jarang anggotanya dihadapkan pada pilihan antara memprioritaskan organisasi atau perkuliahan. Meski demikian tidak dapat dipungkiri bahwa organisasi kemahasiswaan juga mampu memberikan hal-hal positif kepada mahasiswa/mahasiswi. Menurut pendapat anda, apa pentingnya bergabung dalam organisasi kemahasiswaan?

 

(ASW): Keaktifan berorganisasi mampu menempa Soft Skill mahasiswa. Kelak itu bisa menjadi modal dalam memenangkan pasar kerja – khususnya jika mau bertarung di level regional dan global. Siapapun yang ingin menjadi pemimpin dalam sektor bisnis, pemerintahan, swasta, maupun sosial wajib mengembangkan diri melalui “kendaraan” organisasi.

 

(hi.id): Go internasional menjadi salah satu cita-cita bagi mahasiswa/mahasiswi Hubungan Internasional. Terlebih jika hal ini berkaitan dengan kegiatan-kegiatan akademik yang dapat menunjang perkuliahan. Menurut pendapat anda, event akademik seperti apa yang layak menjadi alasan mahasiswa/mahasiswi Hubungan Internasional untuk “go internasional”?

 

(ASW): Saya kira belakangan makin banyak cara untuk bisa “go international” ya. Untuk ranah akademik bisa memanfaatkan konferensi internasional, forum regional maupun Model United Nations (MUN). Untuk yang non-akademik bisa mempertimbangkan pertukaran pemuda (mahasiswa) hingga international camp.

 

(hi.id): Pengabdian pada masyarakat menjadi salah satu elemen penting dalam Tridarma Perguruan Tinggi. Menurut pendapat anda, pengabdian kepada masyarakat yang seperti apa bisa dilakukan oleh mahasiswa/mahasiswi Hubungan Internasional?

 

(ASW): Pengabdian masyarakat bisa dilakukan dengan banyak cara. Bergantung apa keterampilan, minat, dan passion. Namun yang lebih penting lagi ialah mampu menjawab persoalan yang terjadi di akar rumput. Karena sebaik-baik manusia ialah yang paling bermanfaat bagi orang lain.

 

(hi.id): Selain berbicara masa-masa kuliah, di buku ini anda juga menjelaskan terkait tahapan awal karir. Menurut pendapat anda apa yang menjadi tantangan terbesar di awal menghadapi dunia kerja?

 

(ASW): Kurikulum HI di berbagai kampus banyak yang tidak terkait dan selaras (link & match) dengan pasar kerja. Ini diperburuk dengan minimnya assessment potensi diri maupun pelatihan seputar karir dari pihak perguruan tinggi. Jadi, banyak lulusan HI yang tidak siap dengan dunia kerja. Singkat kata, kualitas lulusan HI sangat beragam dari individu yang satu dengan yang lainnya.

 

Image: Agung Setiyo Wibowo, Penulis Buku “Jadi, Kamu Pilih Jurusan HI?”

 

(hi.id): Tantangan dalam dunia kerja yang akan dihadapi oleh HI-bro dan HI-sis sekarang tentu berbeda dengan zaman anda kuliah dulu. Untuk itu, tolong sebutkan satu soft skill yang menurut anda perlu dipersiapkan dengan baik sejak duduk di bangku kuliah guna menghadapi dunia kerja kelak ketika mereka lulus kuliah. Berikan alasannya!

 

(ASW): Menurut pendapat saya ialah agility (kelincahan). Pasalnya, orang yang lincah biasanya cenderung lebih peka dengan keadaan. Jadi, mereka lebih terdorong untuk memaksimalkan kemampuan berpikir analitis maupun kreatif, menyelesaikan masalah, dan di saat yang bersamaan terasah kecerdasan sosialnya.
Era disrupsi dewasa ini sarat dengan volatilitas, ketidakpastian, kompleksitas dan ambiguitas (VUCA). Hanya orang-orang yang terus-menerus mengembangkan diri yang akan menjadi pemenang.

 

(hi.id): Apa pesan yang ingin anda sampaikan kepada pembaca melalui tulisan ini?

 

(ASW): Kenalilah potensi diri sendiri sebelum mengambil jurusan kuliah dan profesi. Karena setiap orang unik dan memiliki bakat maupun kelebihan masing-masing. Selanjutnya gunakan minat, bakat, passion, pengetahuan, dan keterampilan yang Anda miliki untuk menyelesaikan masalah-masalah di sekitar – khususnya yang paling Anda gelisahkan dan pedulikan.

 

(hi.id): Pada sesi berikut ini, anda akan diberikan beberapa pertanyaan maupun pilihan. Anda harus menjawab atau memilih salah satu jawaban dan menjelaskan jawaban anda. Jika saya diberikan pilihan antara berkarir menjadi dosen atau berkarir sebagai diplomat, maka saya memilih menjadi …. Jelaskan!

 

(ASW): Sejak kecil saya ingin menjadi guru. Itu mengapa saat ini saya aktif sebagai konsultan, coach, konselor, penulis, pembicara publik dan trainer sekaligus. Saat ini saya memutuskan untuk menjadi dosen luar biasa. Meskipun tidak menutup kemungkinan akan menjadi dosen penuh waktu kelak.
Misi hidup saya ialah membantu individu dan organisasi memaksimalkan potensi terbaik mereka. Berbeda dengan kebanyakan calon mahasiswa maupun lulusan HI, saya tidak pernah ingin menjadi diplomat. Itu mengapa saya tidak pernah mendaftar CPNS karena sudah tahu apa yang benar-benar saya inginkan dalam hidup.

 

(hi.id): Jika saya bisa mendorong mahasiswa/mahasiswi saya, maka saya memilih untuk mengarahkan mereka mempublikasikan artikelnya atau memberdayakan masyarakat?

 

(ASW): Saya akan mengarahkan mereka untuk memberdayakan masyarakat. Karena di situlah mereka bisa memanfaatkan ilmu yang diperoleh di kelas. Lantaran di sanalah “kualitas” diri sesungguhnya diuji.

 

Semakin banyak masalah yang mahasiswa/i pecahkan, semakin besar manfaat yang mereka tebarkan untuk sesama. Karena bukankah tujuan kita hidup itu untuk mengabdi, melayani, berbagi, memberi, dan menawarkan solusi untuk orang lain?

 

(hi.id): Menurut saya, mahasiswa/mahasiswi Hubungan Internasional akan mendapatkan banyak pengalaman berharga melalui magang atau Kuliah Kerja Nyata (KKN)?

 

(ASW): Keduanya baik dan saling melengkapi. Magang bisa membuka cakrawala mahasiswa/i akan sengitnya persaingan kerja. Jadi, mereka bisa mengukur diri mengenai kesiapan dan kemampuan diri sendiri di lapangan. Sementara itu, KKN bisa membantu mereka keluar dari “menara gading kampus” yang terkadang justru membatasi imaginasi.

 

(hi.id): Berkarir sebagai diplomat di Kementerian Luar Negeri Indonesia menjadi angan-angan dari banyak mahasiswa/mahasiswi Hubungan Internasional. Menurut saya hal tersebut ….

 

(ASW):  Tidak salah dengan angan-angan menjadi diplomat. Yang perlu mereka sadari, lulusan HI bisa berkarya di mana saja sesuai dengan potensi diri. Jadikan pengalaman belajar di jurusan HI sebagai “gerbang emas” masa depan – bukan justru membatasi diri!

 

(hi.id): Menurut pendapat saya, jika lulusan Hubungan Internasional tidak mampu meraih angan-angan berkarir sebagai diplomat, maka pekerjaan yang cocok untuk mereka adalah …. Jelaskan alasannya!

 

(ASW): Pekerjaan apa saja yang sesuai dengan minat, bakat, keterampilan, passion dan “kebutuhan” pasar. Sebagaimana yang saya tulis dalam buku, banyak kok lulusan HI yang justru “bersinar” di luar profesi diplomat. Mulai dari penulis, penyiar, penyanyi, pebisnis, pembicara publik, aktivis sosial, bankir, jurnalis dan lainnya.

 

(hi.id): Jika ada satu negara yang dapat saya rekomendasikan kepada HI-bro dan HI-sis untuk melanjutkan studinya, maka saya akan merekomendasikan mereka untuk melanjutkan kuliahnya di Negara …. Jelaskan alasannya!

 

(ASW): Ehmmm, ini sangat subyektif. Karena bukankah hidup ialah kumpulan dari keputusan atau pilihan kita sendiri? Jika saya yang ditanya, maka saya sangat merekomendasikan HI-bro dan HI-sis untuk belajar di Amerika Serikat. Meskipun belakangan Tiongkok makin menunjukkan tajinya, Amerika Serikat saya rasa masih menjadi pusat peradaban dunia – setidaknya hingga satu hingga tiga dekade mendatang.

 

(hi.id): Jika saya diberikan kesempatan untuk memilih, suatu saat nanti saya ingin mengajar di Universitas … Alasannya?

 

(ASW): Saya lahir dan besar di Magetan, Jawa Timur. Jika Tuhan memberikan kesempatan, suatu saat saya ingin mengajar di kampus-kampus yang tidak jauh dari kampung halaman saya.

 

(hi.id): Bagi saya menjadi dosen itu ….

 

(ASW): ialah panggilan. Karena masa depan bangsa Indonesia ada pada kualitas manusianya.

 

(hi.id): Jika saya tidak menjadi dosen, saya memilih menjadi …. Jelaskan alasannya!

 

(ASW): Penulis dan Pebisnis Sosial. Karena dua profesi ini merupakan cerminan jiwa saya. Dengan menulis saya bisa “menyihir” orang lain melalui kata-kata. Dengan berbisnis sosial, saya bisa menyelesaikan masalah sosial yang paling saya pedulikan dengan mandiri – dengan cara saya sendiri.

 

 

Sumber: hubunganinternasional.id, 24 November 2018 

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
Edit