Yang Ada, Yang Tiada

                 Pernahkah Anda kecewa?

Pernahkah Anda menyesal?

Pernahkah Anda cemas?

Pernahkah Anda takut?

Pernahkah Anda bosan?

Jika Anda menjawab dua atau lebih dari lima pertanyaan di atas, Anda berarti seperti kebanyakan orang di dunia ini. Orang-orang yang masih disetir dari apa yang terjadi di luar dirinya.

Faktanya, kebahagiaan hanya ditentukan oleh diri sendiri. Bukan dari benda, orang, atau kejadian.

Jadi, dalam situasi dan kondisi apapun Anda bisa memilih. Lagi pula, tidak ada yang abadi di alam ini.

Mungkin sekarang Anda kaya, sebentar lagi Anda jatuh miskin. Barangkali Anda sekarang berada di puncak kekuasaan, bukan tidak mungkin tiba-tiba terkurung dalam penjara. Bisa jadi Anda saat ini dirundung duka yang seolah tiada habisnya, siapa tahu secara mengejutkan Anda berubah pikiran besok?

Apa yang Anda miliki sebenarnya ialah titipin. Ia merupakan amanah. Yang kelak dipertanggungjawabkan di akhirat – jika Anda percaya.

Apa yang berwujud di dunia ini sebetulnya sebaliknya. Apa yang ada, sejatinya tidak ada. Mengapa demikian?

Karena alam semesta raya beserta isinya ialah buah karya Sang Pencipta. Hanya bersifat semu. Pun sementara.

Jika sudah demikian, apa yang Anda bangga-banggakan? Apa yang bisa Anda sombongkan? Jika toh di kemudian hari Anda tidak membawanya dalam alam kubur?

Yang ada, yang tiada. Semua yang merasa Anda miliki saat ini cuma bersifat sementara. Tidak ada yang benar-benar dalam rengkuhan Anda. Karena diri Anda sendiripun sesungguhnya tidak ada.

Jadi, apa guna kecewa, menyesal, cemas, takut atau bosan? Mengapa tidak sepenuhnya ‘sadar’ dengan apa yang Anda hadapi sekarang? Kenapa tidak terhubung dengan Tuhan dalam setiap hempusan nafas?

Yang ada, yang tiada. Sudahkah Anda mampu ‘meniadakan’ keakuan Anda?

Kawasan Antar Bangsa Mega Kuningan, 18 Oktober 2018

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
Edit