Tentang Kiasu

                 Belum lama ini saya bersua dengan Rima (bukan nama sebenarnya). Ia merupakan “junior” saya di SMA yang belakangan telah sukses berkarir di negeri jiran, Singapura.

Kecemerlangan Rima tidak datang tiba-tiba. Sejak SMA, anak ini sudah terlihat sangat ambisius. Ia kerap kali menjuarai perlombaan di tingkat kabupaten, provinsi, hingga nasional. Mulai dari olimpiade, debat, cerdas cermat dan seterusnya.

Hari-hari Rima tidak dapat “dilepaskan” dari internet. Itu mengapa kemanapun ia membawa ponsel, ipad, dan laptop yang tersambung dengan koneksi  internet berkecepatan tinggi.

Ya, Rima merupakan konsultan pemasaran digital di kantor regional Asia-Pasifik sebuah agensi asal Amerika Serikat. Posisinya sudah setingkat di bawah direktur.

Rima bekerja di kantor dengan budaya multibudaya. Temannya datang dari berbagai ras. Bahasa ibu, agama, etnis, agama, dan ideologinya pun tentu berbeda-beda.

Rima merupakan satu-satunya anak Indonesia yang berkarir di kantor tersebut. Ia merasa bangga karena bisa “bersaing” dengan rekan-rekannya dari negara lain. Terlebih lagi ia merupakan satu dari tiga karyawan yang berasal dari Asia Tenggara – dua lainnya berasal dari Singapura dan Filipina.

Ketika saya tanya, apakah yang Rima paling banyak pelajari dari Singapura? Rima dengan lantang menjawabnya Kiasu. Kira-kira bisa diartikan sebagai sebuah etos kerja yang “terlalu kompetitif”. Diksi ini berasal dari dialek Hokkien yang mengekspresikan mental “takut kalah”. Merujuk pada semangat warga Singapura atau pendatang di Singapura yang cenderung berpikir “egois” dan senantiasa mau menjadi yang terdepan atau unggul dibandingkan dengan yang lainnya.

Kiasu sejatinya bisa berkonotasi positif maupun negatif. Bisa dikatakan positif karena dengan mental tersebut kinerja siapa saja menjadi terdongkrak. Karena semua orang berpacu untuk menjadi yang terbaik atau sebagai pemenang. Sisi negatifnya mungkin bisa menimbulkan stres, iri, atau cenderung membanding-bandingkan diri dengan orang lain.

Kiasu memang telah menjadi rahasia umum akan kerasnya kehidupan di Singapura. Sebuah negara yang setiap tahunnya menarik diaspora dari berbagai belahan dunia.

Bagaimana dengan diri Anda? Seberapa lekat dengan Kiasu?

 

Kawasan Antar Bangsa Mega Kuningan, 17 Oktober 2018

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
Edit