Membangun Tim Yang Lincah Di Era Disrupsi  

              Kelincahan agaknya merupakan diksi yang paling dibicarakan dalam lima tahun terakhir. Pasalnya, disrupsi di berbagai lini sudah tidak bisa dibendung lagi.

Kelincahan ialah jawaban pada era yang identik dengan Volatility, Uncertainty, Complexity, & Ambiguity (VUCA) ini. Suatu masa ketika perubahan yang sangat cepat tak dapat dihindari. Suatu zaman ketika siapa saja seolah-olah sulit untuk memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan. Suatu periode yang sarat dengan kompleksitas. Suatu era tatkala realitas dan imaginasi seakan-akan kabur dalam gejolak yang tiada henti.

Genderang perang “adu-lincah” telah ditabuh di mana-mana. Berderet organisasi yang tidak siap sedang kalang-kabut atau menunggu kehancuran. Sebagian terdengar telah merumahkan pekerjanya besar-besaran. Sebagian lagi mulai meronta-ronta di hadapan firma konsultasi untuk dijadikan mitra transformasi.

Memang begitulah peta perubahan zaman kekinian. Tak terhitung berapa banyak konglomerasi yang satu-persatu gurita bisnisnya bertumbangan lantaran kurang gesit. Berbagai perusahaan yang dulu  merasa “di atas langit” kini terbengong-bengong dengan kemunculan Gojek, Bukalapak, Tokopedia, Traveloka, dan “rekan-rekannya”.  Bahkan, pemerintah sendiripun dalam tingkat tertentu merasa “kelabakan” dalam mengakomodasi kebijakan ataupun peraturan yang pro-kelincahan.

Saya langsung teringat dengan petuah Pendiri Amazon Jeff Bezos. Bahwa di era volatilitas seperti saat ini, tidak ada cara lain selain menemukan kembali (nilai organisasi). Karena satu-satunya keunggulan berkelanjutan yang Anda miliki atas orang lain ialah kelincahan – itu saja. Mengingat tidak ada hal lain yang berkelanjutan; apapun yang Anda buat, orang lain akan mereplikasinya.

Tentu, setiap organisasi di level manapun saat ini sedang bertanya-tanya. Bagaimana cara memprediksi, mengantisipasi, dan memanfaatkan situasi yang berubah dengan sedemikian cepatnya ini?

Membangun kinerja tim yang lincah sudah menjadi keharusan untuk bisa bertahan dan menang di era disrupsi. Itu hanya bisa dilakukan melalui 5 (lima) tahap yang harus dijalankan secara berkelanjutan. Dimulai dari lingkup tim terkecil dalam struktur organisasi Anda.

Pertama, meritokrasi gagasan. Ini harus diterapkan di setiap tim dalam organisasi. Siapapun yang memiliki gagasan terbaik untuk kepentingan perusahanaan harus diterima, apapun jabatan yang mengusulkannya. Prinsip ini hanya bisa diterapkan jika transparansi, keterbukaan, kerendahan hati, kepercayaan, dan persahabatan dalam tim terjaga.

Kedua, kerjasama. Merupakan kegiatan yang dilakukan oleh seorang pemimpin tim atau anggota tim dengan seseorang dari tim lain yang bertujuan untuk mencapai tujuan organisasi secara menyeluruh.

Ketiga, koordinasi. Ialah aktivitas PDCA (rencanakan, kerjakan, cek, tindaklanjuti) yang dilakukan oleh anggota tim sendiri dengan orang dari tim lain guna mencapai tujuan bersama.

Keempat, kolaborasi. Adalah PDCA yang dilakukan oleh pemimpin tim guna memungkinkan para anggota tim bekerja sama untuk mencapai goal dengan kelincahan, fleksibilitas dan efisiensi.

Kelima, kelincahan. Merupakan kemampuan sebuah tim atau sekumpulan tim untuk menemukan gagasan terbaik di antara berbagai alternatif guna bertindak dan menanggapi sesuatu dengan cepat dan mudah dalam upaya mencapai goal.

Kelincahan memang hanya satu di antara aspek yang harus diperhatikan di era disrupsi. Di luar itu ada berderet aspek lain yang mempengaruhi berkinerja tinggi atau tidaknya sebuah tim. Namun yang pasti, kelincahan ibarat kualitas bahan bakar sekaligus mesin yang menentukan berjalan atau tidaknya organisasi secara berkelanjutan.*

 

*) Artikel ini pertama kali dimuat di Intipesan, 16 Oktober 2018 

 

 

 

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
Edit