Hidup Yang Bermakna

                Belum lama ini saya berjumpa dengan Tom. Beliau ialah salah satu mentor pengembangan diri saya. Kami bertemu di sebuah kedai di bilangan Kemang, Jakarta Selatan.

Di mata saya, Tom merupakan sosok yang paripurna. Sukses secara finansial. Anak istrinya terlihat bahagia. Badannya bugar. Pengaruhnya di industri yang digeluti begitu besar. Kesalihan spiritualnya tidak diragukan. Perannya di masyarakat tak kalah keren. Karyanya pun di mana-mana.

Sebagai seorang millennial yang baru aka merenda bahtera rumah tangga, saya begitu takjub dengan Tom. Bagaimana tidak, di usianya yang baru menginjak 50 ia benar-benar telah menjadi sosok yang sangat mengagumkan? Setidaknya, mendekati imaginasi saya untuk menjadi pribadi dengan pencapaian tertentu.

Setelah saya “telanjangi” selama 120 menit, akhirnya terpenuhi sudah rasa penasaran saya. Ternyata, Tom memiliki satu “kata kunci” yang kebetulan sejalan dengan  nilai yang saya pegang. Apa itu?

Hidup yang bermakna.  Apa artinya? Sederhana saja. Yaitu hidup yang benar-benar hidup. Bukan sekedar hidup. Hidup yang memiliki tujuan yang jelas. Sehingga, tidak terlewatkan sedetik pun yang sia-sia.

Hidup yang bermakna mungkin definisinya berbeda satu sama lain. Namun, secara umum dianggap sebagai hidup yang memiliki alasan yang kuat. Sebuah kehidupan yang dilalui untuk kebermanfaatan orang lain – bukan untuk memuaskan syahwat diri sendiri.

Hidup yang bermakna sejalan dengan apa yang diinginkan oleh Tuhan dari kita. Juga berbanding lurus dengan apa yang dibutuhkan orang lain atau masyarakat dari kita.

Hidup yang bermakna mendorong kita untuk melalui hari-hari dengan ikhlas. Karena hidup, mati, dan di antara keduanya hanyalah untuk Tuhan.

Hidup yang bermakna dimulai dari pengenalan diri sendiri. Dari mana kita berasal, untuk apa kita ada, apa yang benar-benar kita inginkan, dan bagaimana cara kita mengisi waktu di dunia.

Hidup yang bermakna membuat kita punya alasan yang sangat kuat dari dalam diri untuk melakukan sesuatu. Bukan hidup seperti robot yang tidak ada ruh, nirjiwa.

Bagi saya, hidup yang bermakna berarti hidup yang sejalan dengan panggilan hidup. Bisa mengekspresikan diri saya guna memecahkan masalah di sekitar, bermanfaat banyak untuk sesama, dan diridhai Tuhan.

Kalau Anda bagaimana?

Kebagusan, 12 Oktober 2018

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
Edit