Ikhlas Tanpa Syarat

                Ikhlas. Apa yang ada di benak Anda jika mendengar kata yang satu ini? Saya yakin jawabannya gado-gado yah.

Yang pasti, ikhlas tidak asing di telinga kita. Pasalnya, setiap saat saya maupun Anda senantiasa diuji oleh berbagai tantangan yang mengharuskan bersikap seperti itu.

Baru-baru ini misalnya. Saya berjumpa dengan kawan SMA yang hampir depresi karena bisnis yang digelutinya bangkrut. Ia down karena “merasa” telah berusaha sebaik mungkin, tapi hasilnya tidak sesuai yang diharapkan. Lain lagi dengan rekan S1 saya yang secara mengejutkan cukup kecewa dengan tabiat pasangannya. Ia “merasa” telah memberikan yang terbaik, namun tidak mendapatkan “balasan” yang setimpal.

Dalam Islam, ikhlas sering disebut  sebagai intisadari dari iman. Itu mengapa dalam salah satu ayat kitab suci disebutkan bahwa sesungguhnya shalat, ibadah, hidup, dan mati kita hanya untuk Tuhan.

Konon, orang yang ikhlas cenderung lebih bahagia daripada yang terlalu “hitung-hitungan”. Pasalnya, mereka senantiasa berusaha ikhtiar yang terbaik tanpa “terikat” dengan hasil akhir.

Ikhlas mungkin sepele di mata Anda. Namun, ia merupakan dasar dari “cinta”. Karena apa yang kita lakukan untuk orang lain semata-mata untuk Tuhan. Bukan agar mendapatkan balasan, imbalan, keuntungan dan semacamnya.

Di dunia yang sungguh disruptif ini, saya agak kesulitan menemukan orang yang benar-benar ikhlas dalam kesehariannya. Segala sesuatu nampaknya bersifat transaksional atau bersifat bisnis.

Coba tengok. Berapa politisi yang benar-benar tulus melayani publik? Susahkah Anda mendapati pemuka agama yang tidak “sok ngartis”?

Ya, jika dipikir-pikir lagi, semua orang memang ada “maunya”. Tidak salah memang. Namun, jika niat agar mendapatkan “sesuatu” terlalu mendominasi, sulit rasanya untuk mencapai titik bahagia.

Karena bahagia ada dalam keikhlasan. Dalam cinta. Dalam melayani, mengasihi, memberi, mengabdi, dan berbagi. Bukan dalam mental “mengharapkan”.

Sekarang, renungkan saja hidup Anda. Sudahkah ibadah dan berkarya Anda telah benar-benar ikhlas? Hanya Anda yang bisa menjawab.

 

Kebagusan, 10 Oktober 2018

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
Edit