Kupu-Kupu Atau Permata?  

 

                 Berinteraksi dengan orang ialah “hobi bawaan” yang dimiliki oleh seorang ekstrovert. Bertemu, bertukar pikiran, atau sekedar mengobrol santai menjadi keasyikan tersendiri.

Tak terkecuali dengan diri saya. Berinteraksi dengan sesama ibarat baterai yang sedang diisi (charging). Pasalnya, saya bisa “menyerap energi” orang yang saya ajak bicara. Jadi, berapapun lamanya saya berbincang-bincang, tidak pernah merasa lelah.

Sebaliknya, orang ekstrovert akan merasa “loyo” ketika sendirian. Energi seakan-akan habis. Sehingga, tidak akan betah jika berlama-lama menyendiri.

Menyadari sifat alamiah ini, saya berusaha bertemu dengan kawan lama atau kenalan sesering mungkin. Karena selain menambah dan merekatkan hubungan persaudaraan, aktivitas ini memang membawa banyak positif. Itu mengapa benar-benar membuat ketagihan.

Belum lama ini saya bersua dengan Mahatma (bukan nama sebenarnya). Beliau merupakan salah satu “resi” yang cukup tersohor di nusantara. Maksud kedatangan saya tidak lain ialah untuk mewawancarainya guna memperkaya riset saya.

Sesungguhnya ada begitu banyak pelajaran hidup yang saya “curi” dari Mahatma. Namun, ada satu hal yang paling saya ingat. Yakni analogi kupu-kupu dan permata.

Maksudnya apa Mas Agung? Sebagian besar manusia di dunia ini fokus mengejar kupu-kupu. Sehingga, semakin lama mereka mengejar, kupu-kupu malah semakin menjauh.

Sebaliknya, hanya segelintir saja manusia yang menggali permata. Padahal, semakin lama permata digali dari dalam tanah, maka semakin banyak “keindahan” yang diterima. Semakin dalam galiannya, peluang untuk mendapatkan permata berkualitas prima semakin besar.

Kupu-kupu dan permata hanyalah simbol. Bahwa sebagian besar orang cenderung mengejar kupu-kupu yang merupakan perumpamaan dari kebahagiaan. Mereka sulit untuk mendapatkannya karena mengejar apa yang ada di luar dirinya. Itu mengapa banyak orang yang tidak bahagia meski kekayaan, ketenaran dan kekuasaan dalam genggaman. Karena manusia memang merasa kurang, kurang, dan kurang.

Hanya sedikit manusia yang mau menggali “permata” di dalam dirinya. Padahal kebahagiaan sejati ada di dalam diri sendiri. Lantaran kebahagiaan ialah perihal hati yang menyatu jiwa dan ilahi.

Jadi, selama ini mana yang Anda dambakan? Mengejar kupu-kupu atau menggali permata? Hidup adalah pilihan.

Kebagusan, 7 Oktober 2018

 

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
Edit