Seni Transformasi Diri

 

Baru-baru ini saya bertemu kawan lama saya. Sebut saja bernama Heri. Kami bersua di salah satu pusat perbelanjaan papan atas di bilangan Senayan.

Perjumpaan saya dengan Heri kali ini berbeda dari yang sudah-sudah. Pasalnya jika sebelumnya kami bercakap-cakap sebagai sesama teman seperjuangan. Pertemuan di Senayan itu ia memosisikan diri sebagai coachee, sedangkan saya sebagai coach.

Usut demi usut, Heri ingin sekali mengubah hidupnya secara holistik. Ia mengaku sudah berusaha mati-matian untuk “menyulap” nasib dalam kurun lima tahun terakhir. Namun, hasilnya lagi-lagi selalu gagal. Ia memang unggul dalam satu atau dua sisi, namun masih saja “hancur” dalam sisi lain. Hidupnya tidak seimbang.

Intinya, Heri berada dalam keputusasaan. Ia sudah mencoba hampir semua cara yang telah disarankan oleh para coach senior. Juga telah mengikuti apa yang disampaikan oleh para pembicara di seminar atau forum pengembangan diri yang diikutinya. Tidak hanya itu, berbagai buku keluaraan Amerika telah ia lahap. Namun, hasilnya masih nihil.

Heri tidak tahu lagi harus berbuat apa. Ia ingin sekali memperbaiki hidupnya. Namun, selalu berhenti bahkan mundur di situ-situ saja karena satu dan lain hal.

Sekilas, masalah yang dihadapi Heri sejatinya sederhana saja. Tidak jauh berbeda dengan orang kebanyakan. Mulai dari mental block hingga dorongan dari dalam diri yang ternyata hangat-hangat tahi ayam.

Setelah saya cermati lebih dalam, Heri tak kunjung berhasil mengubah hidupnya karena empat hal. Ya, empat hal yang mungkin terkesan sepele tapi sering diabaikan dalam transformasi diri.

Pertama, mengindentifikasi nilai-nilai hidup. Heri memang memiliki semangat besar untuk berubah. Namun, upayanya tidak diiringi dengan pengenalan diri sendiri terlebih dahulu. Sebagai contoh, ia sebenarnya tahu bahwa keluarga menjadi prioritas pertama dibandingkan dengan uang dan status. Realita di lapangan menunjukkan hal bertentangan, sehingga keluarga yang seharusnya menjadi support system malah tercampakkan. Sehingga, meski ia berhasil mendapatkan fortune & fame, kebahagiaan tidak hinggap di hatinya karena merasa “kosong”.

Kedua, menetapkan goal yang jelas dan memiliki komitmen tinggi. Setelah saya amati, Heri memang sudah cukup baik memetakan tujuan yang ingin dicapai dalam hidupnya. Sayangnya, ia masih memiliki komitmen yang rendah. Sebagai contoh, ia ingin senantiasa fit. Namun, ia malas berolahraga dan malah sering mengkonsumsi masakan cepat saji, dan  begadang atas nama produktifitas. Akibatnya, ia memang senang dalam jangka pendek. Namun ia “kebobolan” untuk kebahagiaan jangka panjang. Tak mengherankan, tak peduli berapa banyak  uang dan popularitas yang ia dapatkan, ia masih merasa sebagai “remah-remah rengginang” karena sakit-sakitan.

Ketiga, menyadari hambatan. Bertahun-tahun, Heri hanya mengukur keberhasilan dari satu sisi saja. Sebagaimana kebanyakan orang, ia menempatkan harta-tahta-ketenaran di urutan pertama. Sayangnya, ia tidak menyadari bahwa hidup ini pilihan. Jadi, selalu berlaku hukum trade-off. Alhasil, tak peduli seberapa besar dorongan ia ingin berubah, selalu saja gagal. Karena ia tak sadar bahwa kesehatan dan keluarga tidak kalah pentingnya dengan “kesuksesan semu” yang ia kejar setengah mati. Jadi, alangkah baiknya jika mampu menyeimbangkannya secara terus-menerus.

            Keempat, mengukur dan merayakan keberhasilan. Heri memang tahu apa yang diinginkan dalam hidupnya. Suatu permulaan yang cukup baik. Sayangnya, ia kurang menghargai diri sendiri. Jadi, ia enggan mengapresiasi kemajuan (progress) yang dicapai dalam upaya mereguk cita-cita besarnya. Ia lupa bahwa menikmati proses atau perjalanan terkadang lebih penting ketimbang mencapai titik akhir – yang mana sebenarnya tidak pernah ada kondisi itu.

Semoga yang Heri alami di atas menjadi pelajaran berharga bagi Anda. Untuk senantiasa memandang hidup secara holistik. Bukan sepotong-potong, bukan secara parsial.

Selamat menikmati proses transformasi diri. Sebuah seni yang sejatinya dapat kita poles di sepanjang perjalanan hidup. Sebagaimana yang dituturkan Rick Warren bahwa Transformation is a process, and as life happens there are tons of ups and downs. It’s a journey of discovery – there are moments on mountaintops and moments in deep valleys of despair.”
 

*) Pertama kali dimuat di Inti Pesan, 13 Juli 2018

 

 

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *