Benarkah Nasib Kita Ditentukan Oleh Cara Berpikir

“Your beliefs become your thoughts, your thoughts become your words, your words become
your actions, your actions become your habits, your habits become your values, and your values
become your destiny.”
― Mahatma Gandhi

Kutipan dari bapak bangsa India di atas bisa jadi belum tentu semua orang mengamininya. Namun, jika kita renungkan kembali sulit sekali untuk membantahnya.

Nasib kita memang berpangkal dari pola pikir kita sendiri. Pasalnya, pikiran menjadi perkataan. Perkataan menjadi perbuatan. Perbuatan menjadi kebiasaan. Kebiasaan menjadi nilai-nilai. Dan nilai-nilai menjadi nasib yang kita terima.

Menyadari hal itu, cara paling efektif untuk mengubah diri sendiri ialah dengan mengubah cara berpikir. Begitu pula dalam berhubungan dengan orang lain. Cara termudah untuk mempengaruhi orang lain ialah dengan menyesuaikan sikap kita dengan cara berpikir mereka.

Dalam konteks organisasi, saling mengetahui cara berpikir kolega merupakan pangkal dari keberhasilan. Pasalnya, setiap orang memiliki pola pikir unik.

Dengan mengetahui cara berpikir orang lain; kita bisa terlatih untuk berempati, mengelola emosi, dan bijak menyikapi apa saja. Itu semua ditunjukkan dengan kelihaian berkomunikasi, seni memimpin, dan mengelola hubungan baik dengan sesama. Pada akhirnya timbullah kohesivitas tim yang mendorong terwujudnya kinerja unggul.

Mengetahui bagaimana pikiran manusia bekerja memang baik. Namun akan lebih baik lagi jika juga mengetahui faktor genetika alias pembawaan sejak lahir.

Memahami bagaimana unsur genetika dan cara berpikir dapat mempengaruhi “nasib”, menjadi keniscayaan jika kita ingin sukses. Baik dalam aspek personal maupun profesional. Pasalnya genetika (nature) dan pengalaman hidup (nurture) bagai koin bermata dua. Tak terpisahkan.

Menurut Steven Pinker dalam bukunya The Blank Slite ditegaskan bahwa 70% variasi antar individu disebabkan oleh genetika. Oleh karena itu, peristiwa yang terjadi dalam kehidupan seseorang akan menorehkan suatu tanda pada otaknya.

Saya jadi teringat dengan kajian menarik bertajuk Emergenetika. Sebuah studi mengenai ciri-ciri watak/pembawaan yang muncul sebagai perpaduan dari unsur genetika/alami dan hasil asuhan/pendidikan/pengalalaman sehingga membentuk sikap dan perilaku tertentu.

Emergenetika sendiri tak dapat dipisahkan dengan gagasan Psikolog Universitas Harvard Jerome Kagan. Menurut beliau otak seorang bagaikan sepotong kkain abu-abu puncat. Benang hitam genetika terjalin dengan benang putih lingkungan yang menghasilkan warna campuran hitam dengan putih yaitu abu-abu.

Sementara itu penelitian riset David T. Lykken mengenai pasangan kembar dua atau tiga di seluruh dunia menunjukkan bahwa manusia kembar memiliki kesamaan watak atau perilaku. Seperti dalam kasus Jerry Levey dan Mark Newman – kembar identik yang telah berpisah puluhan tahun namun masih memiliki sejumlah kesamaan. Mulai dari memelihara kumis, potongan rambut, kacamata pilot hingga warna ikat pinggang. Demikian halnya dengan Jim Springer dan Jim Lewis yang terpisahkan berpuluh-puluh tahun ketika dipertemukan masih sama-sama senang merokok Salem, minum Miller elite, menggigit kuku dan balapan mobil.

Otak memang faktor yang sangat menentukan cara berpikir manusia. Itu mengapa emergenetika mengkaji ranah tersebut secara mendalam. Pemindaian otak dengan teknologi canggih misalnya. Dapat mengungkapkan cara kerja otak, bagian otak mana yang berfungsi untuk memecahkan masalah serta berapa lama sebuah pengalaman berdampak dalam pikiran kita.

Saya langsung teringat dengan Dr Geil Browning, Ph.D. dan Dr Wendell Williams, Ph.D. Pasalnya mereka telah melakukan penelitian yang hasilnya mampu memberikan gambaran secara komprehensif mengenai kombinasi preferensi berpikir dan atribut perilaku.

Riset yang melibatkan lebih dari 300.000 orang dewasa tersebut membawa mereka mematenkan produk bernama Emergenetics®. Dalam perkembangannya, paten tersebut melahirkan perusahaan pengembangan organisasi bernama Emergenetics International. Sebuah institusi yang mengandalkan penelitian psikometrik dan studi perilaku untuk memberi saran dan berkonsultasi dengan bisnis dan individu tentang cara menilai sumber daya manusia. Berawal dari Amerika Utara, kini perusahaan tersebut telah menyebar ke berbagai negara di dunia – tak terkecuali Indonesia.

Emergenetics menawarkan beberapa jasa. Salah satunya ialah assessment untuk mengetahui seseorang berdasarkan empat atribut berpikir (analitis, struktural, sosial, dan konseptual dan tiga atribut perilaku (ekspresif, asertifitas dan fleksibilitas). Sejak 1998, mereka telah memsertifikasi coach, profesional sumber daya manusia, dan trainer dengan ribuan individu telah menjadi penerima manfaat secara global.

Emergenetics merupakan instrumen pembuat profil berbasis riset ilmiah yang menunjukkan cara berpikir individu secara genetik (genetic) dan bertindak dengan cara tertentu. Cara berpikir dan bertindak tersebut dapat berubah (emerge) akibat faktor sosial/lingkungan yang terjadi dalam kehidupan seseorang. Kombinasi dari genetika dan pengalaman hidup ini terjalin dan membentuk pola yang dapat kita pelajari guna mendongkrak komunikasi dan produktivitas.

Belum lama ini saya pun mencoba jasa Emergenetics. Hasilnya memang menggambarkan diri kita sebenarnya. Itu mengapa tidak mengherankan jika organisasi-organisasi yang pernah menjadi kliennya terbukti mampu membentuk tim lebih produktif, meningkatkan pemahaman dan mengurangi konflik di antara rekan kerja, menjamin kualitas pekerjaan yang lebih baik dan juga pengembangan solusi yang lebih efektif atas sebuah masalah. Pribadi yang menemukenali dengan baik atribut cara berpikir dan perilaku mereka, pada umumnya dapat berkomunikasi, memiliki kemampuan menjual, melakukan presentasi, mengajar dan memotivasi orang lain dengan lebih efektif.

Emergenetics memang bukan satu-satunya peranti yang dapat kita pakai untuk mengetahui cara berpikir dan berperilaku kita. Di luar sana mungkin banyak penyedia layanan sejenis yang dapat membantu menemukan kekuatan yang dimiliki oleh setiap individu selaku anggota tim dan kekuatan mana yang berhubungan dengan energi terbesarnya. Jika kekuatan tersebut dapat dimaksimalkan, maka setiap individu mampu bekerja lebih lama tanpa kehabisan energi.

Saya pribadi telah mencobanya. Bagaimana dengan Anda ?

 

Artikel ini pertama kali dimuat di Intipesan, 14 April 2018 

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
Edit