The Ambassadors’ Journey: Cerita Saya dan Para Jebolan Duta Wisata Se-Indonesia

Buku pertama dan satu-satunya di Indonesia yang membahas apa, siapa, mengapa, dan bagaimana duta wisata menarik untuk ditelaah.

Duta wisata. Apa sih yang ada di benak Anda ketika mendengar namanya? Sepasang model “pembawa nampan” yang terbiasa hadir dalam seremonial acara-acara pemerintahan? Ataukah muda-mudi jebolan kontes pageant di bidang budaya yang hanya bisa senyum-senyum manis tanpa peran berarti?

Apapun pendapat Anda, sah-sah saja. Karena toh selama ini belum banyak publikasi mengenai keberadaan mereka. Untuk itulah mengapa buku ini ditulis.

Tidak banyak orang yang tahu mengenai ajang pemilihan duta wisata. Padahal sampai buku ini ditulis; negeri ini memiliki 34 provinsi, 415 kabupaten, 93 kota, 1 kabupaten administrasi dan 5 kota administrasi. Jika pertahun setiap pemerintah daerah “menelurkan” 10 pasang duta wisata saja, berapa jumlah keseluruhannya? Lebih dari 10 ribu. Angka yang begitu “seksi” jika bisa diberdayakan dengan benar dan berkelanjutan.

Buku ini hadir untuk mematahkan anggapan bahwa ajang pemilihan duta wisata hanyalah buang-buang anggaran saja. Karena ada begitu banyak hal positif yang didapatkan dari kegiatan tersebut. Pemerintah sendiri terbantu karena jebolan ajang tersebut membantu mereka dalam program-program promosi maupun pengembangan pariwisata dan kebudayaan. Masyarakat diuntungkan karena para duta tersebut bisa menjadi “penyambung lidah” inspirasi. Para alumni duta wisata sendiri mereguk berbagai benefit. Mulai dari pengembangan diri, pengenalan potensi kota/kabupaten yang lebih dalam, penguasaan kesenian dan kebudayaan lokal yang meningkat, terdongkraknya jejaring, hingga sebagai platform untuk sukses dalam karir.

Buku ini memaparkan pengalaman pribadi penulis sebagai seorang alumni duta wisata. Diperkuat dengan survei yang melibatkan ratusan alumni duta wisata dari Sabang sampai Merauke. Ditambah lagi dengan kurasi profil para alumni duta wisata yang sekarang menjadi figur publik dan menginspirasi. Selain itu, buku ini juga dilengkapi dengan tips dan trik menjadi seorang duta wisata yang keren.

Beberapa tokoh alumni duta wisata yang diulas tuntas perjalanan hidupnya dalam buku ini antara lain:

  1. Sylviana Murni (mantan Walikota Jakarta Pusat)
  2. Zumi Zola  (Gubernur Jambi)
  3. Airin Rachmi Diany (Wali Kota Tangerang Selatan)
  4. Tina Talisa (News Anchor)
  5. Tommy Tjokro (News Anchor)
  6. Indra Bekti (Presenter, Artis)
  7. Hatna Danarda (Vokalis Naff)
  8. Ratih Sanggarwati (Model)
  9. Ashanty (Artis)
  10. Angkie Yudistia (Sociopreneur)
  11. Yuliandre Darwis (Ketua KPI)
  12. Maudy Koesnadi (Artis)
  13. Venna Melinda (Artis, Politisi)
  14. Dan puluhan sosok lain dari seluruh Indonesia

Secara sederhana, isi buku ini memaparkan:

  1. Pemaknaan duta wisata
  2. Pengalaman penulis sebagai duta wisata
  3. Bincang dengan para duta wisata
  4. Profil para duta wisata yang menginspirasi dari beragam profesi
  5. Bagaimana cara menjadi seorang duta wisata yang sukses (tips/trik/strategi)
  6. Pesan untuk para calon duta wisata

Buku ini sama sekali bukan untuk menggurui. Hanya secercah cerita dari orang yang pernah mengalami lebih dulu. Informasi yang diberikan pun berimbang, tidak berat sebelah. Gaya bahasa yang dipakai juga “lo, gue”.  Sehingga, sangat cocok dibaca oleh:

  1. Siapa saja yang berminat menjadi duta wisata di daerah masing-masing (Abang None, Mojang Jajaka, Uda Uni, Agam Inong, Mas Mbak, Cak Ning, Dara Daeng, Jegeg Bagus, Muli Mekhanai, Kacong Cebbing, dst)
  2. Siapa saja yang bermimpi untuk memenangkan kontes pageant seperti Puteri Indonesia, Miss Indonesia, Puteri Pariwisata Indonesia, Putera Puteri Batik, Putera Indonesia, Duta GenRe, Duta Lingkungan Hidup, Miss Coffee, dan semacamnya.
  3. Para alumni duta wisata yang ingin mengenang masa pengabdiannya.
  4. Pengamat pariwisata, kebudayaan, model, dan peagants.
  5. Para pemangku kepentingan di bawah Kementerian Pariwisata, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, dan berbagai dinas terkait.
  6. Pencari kebijaksanaan di manapun berada

 

Apa Kata Mereka?

“Duta wisata dipilih bukan hanya untuk sebuah event seremonial. Tapi menjadi tumpuan aktualisasi generasi muda – menjadi mitra pemerintah dalam membranding destinasi pariwisata di Indonesia, khususnya di kota/kabupaten masing-masing. Buku ini saya rasa mampu mewakili cerita klasik pengalaman para duta wisata di manapun berada. “

(Yuliandre Darwis, Ph.D – Ketua Komisi Penyiaran Indonesia 2016-2019)

 

“Menjadi seorang duta itu tidak mudah. Ia tidak hanya menjadi tempat orang mendapatkan informasi, ia juga harus mampu memberi klarifikasi atas banyak hal yang mungkin tengah terjadi. Artinya seorang duta harus memiliki pemahaman yang mumpuni dan juga kemampuan berdiplomasi dalam mencari solusi. Dan itu hanya ada pada pribadi orang-orang terpilih.

Termasuk menjadi duta wisata. Ia harus memiliki kecintaan sejati pada daerah yang diwakili. Karena hanya dengan tulus mencintai, ia dapat melayani daerahnya dengan setulus hati. Ia dan daerahnya menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan. Dirinya adalah daerahnya dan daerahnya adalah dirinya.

Duta wisata adalah adalah sebuah refleksi dimana orang melihat keindahan wisata pada suatu daerah terpancar dalam pribadi dirinya. Jiwanya telah menyatu dengan alamnya.  Oleh karena itu menjadi duta wisata adalah sebuah kehormatan karena ia terpilih untuk berada pada garis depan sekaligus menjadi titik sentral pariwisata di daerahnya.”

(Prita Kemal Gani, MBA, MCIPR, APRFounder & Director, The London School of Public Relations Jakarta)

 

“Tugas saya sebagai diplomat yang mewakili Indonesia di luar negeri sangat terbantu dengan pengalaman menjadi salah satu Dimas Yogyakarta Tahun 1993. Mempromosikan Indonesia kepada publik internasional dapat saya lakukan dengan lebih mudah, strategis dan cerdas berbekal ilmu dan pengetahuan yang didapat ketika bertugas menjadi duta wisata.”

(Aziz Nurwahyudi – Minister Counsellor Penerangan Sosial dan Budaya, KBRI Den Haag)

 

“Pengalaman merupakan sesuatu yang nyata untuk bisa diceritakan.  But All the best ideas come out of the process, they come out of the work itself. Things occur to you. Nikmati dan kembangkan lah dari proses tersebut. Public speaking, leadership, dan improving your social skills….Ketiga hal ini didukung dengan kepedulian yang tinggi akan membangun karakter muda yang jauh lebih bermanfaat untuk negeri. Buku ini secara lugas menyampaikan hal tersebut serta menceritakan sisi yang lebih jelas peran dan manfaat dari seorang Duta Wisata. All the best buat Agung dengan support positifnya untuk anak muda Indonesia.”

(Tommy Tjokro – Head of News Production and Lead Anchor, MNC World News)

 

“Buku ini memiliki manfaat ganda.  Pertama, memberikan gambaran yang dekat melalui orang pertama mengenai duta wisata.  Kedua, menyimpan ilmu dan hikmah mengenai perjuangan anak-anak muda sebagai duta wisata agar selalu siap ditengok kembali.  Kedua manfaat tersebut membuat buku ini menjadi kenangan abadi tidak hanya bagi si pelaku, tetapi juga si pembaca.  Di buku ini, pelaku dan pembaca seperti berdialog mengenai pengalaman konyol atau hebat dari sebuah pengalaman bernama duta wisata.”

(Ir. Totok Amin Soefijanto, MA, Ed.DDeputi Rektor Akademik, Riset, dan Kemahasiswaan Universitas Paramadina)

 

“Sebagai Duta Pariwisata… saya pribadi jujur tidak masuk atas keingingan sendiri, namun karena keadaan.  Setelah menjalani proses karantina dan mendapatkan gelar Abang Harapan 1 di Pemilihan Abang None Jakarta Barat 2008, saya merasa wajib menjalankan amanah melestarikan budaya Betawi atau budaya Indonesia ke nasional maupun dunia, dengan Cara saya sendiri di bidang seni peran karena ‘tuntutlah ilmu dari buaian sampai liang lahat’.”

(Ade Firman Hakim – Artis)

 

“Menjadi Duta Wisata membuktikan bahwa seseorang lulus seleksi dalam sebuah kompetisi yang terancang baik.  Seleksi yang sesungguhnya nantinya adalah saat menghadapi ‘kompetisi’ yang sebenarnya di dunia luar, yang lebih nyata, yang lebih berat lagi. Penilaian pemenangnya adakalanya tidak dipublikasi, kriteria pemenang kompetisi ini bahkan seringkali tidak dijelaskan dari awal. Menjadi Duta Wisata ini adalah sebuah modal awal. Modal berikutnya adalah penerapannya di masyarakat luas. Hanya orang-orang dengan personal brand yang cemerlang yang akan memenangkan pertandingan di kompetisi ‘nyata’ tersebut. Gunakan kesempatan untuk ikut ajang pemilihan Duta Wisata atau sejenisnya untuk kemudian mengasah dalam pertandingan kehidupan berkelanjutan setelahnya.” 

(Amalia E. Maulana, Ph.D.  –  Brand Consultant & Ethnographer, Director ETNOMARK Consulting/Penulis buku “PERSONAL BRANDING: Membangun Citra Diri yang Cemerlang”)

 

“Duta Wisata? Bukan sekedar kontes; tapi juga bermakna mendalam untuk melatih soft skills; juga membuat generasi muda mengenal, menjalani, dan melestarikan budaya tradisional  di masing-masing daerah yang ada di Indonesia. Selain mempromosikan pariwisata, Lomba Pemilihan Duta Wisata bisa dijadikan ajang pendidikan untuk belajar di berbagai bidang dan kontribusi nyata ke masyarakat. Jangan hanya bangga dengan prestasi selempang, jangan hanya bangga menginspirasi, tapi jadilah bermanfaat bagi kemajuan banyak orang. Buku ini bisa dijadikan petunjuk bagaimana memaknai Lomba Pemilihan Duta Wisata.”

(Nursasongko Soegijatno – Pengamat Pageants, www.indonesianpageants.com)

 

“Saya tidak mengatakan kalau menjadi duta wisata itu bisa mengubah hidup, apalagi menjamin terwujudnya kesuksesan. Tapi saya berani berkata jujur bahwa pengalaman darinya merupakan kawah candradimuka untuk personal development yang manfaatnya dapat dirasakan seumur hidup. A well-written book, congratulation Agung!”

(Yudy Rizard Hakim – Chief Corporate Affairs Officer, PT Bakrieland Development Tbk)

 

Buku The Ambassador Journey karya Agung ini semakin meneguhkan kontestasi yang menghasilkan para Duta Wisata sebagai ujung tombak promosi pariwisata di level daerah maupun nasional, bukan sekedar menghasilkan figur anak muda yang smart dan charming. Namun sejatinya dalam proses kompetisi dan selama menjalankan peran sebagai duta wisata, melejitkan Adversity Quotient atau tingkat ketahanan seorang manusia dalam menghadapi tantangan dan tekanan (human resilience). Berkembangnya AQ di samping juga IQ dan EQ personal para duta wisata ditambah opportunity memperkaya pengalaman, ilmu, soft skill serta networking. Pada kenyataannya membentuk para pribadi yang sukses seperti figur-figur yang ditampilkan oleh penulis dalam buku ini. Selamat membaca dan menyelami sosok-sosok inspiratif dalam The Ambassador Journey!

(Arief Rahman, ST, MM – Board of Policy, East Java Tourism Promotion Board, CEO LensaIndonesia.com)

 

“Menjadi duta wisata sama sekali tidak identik dengan wajah dan penampilan luar. Menjadi brand ambassador sesungguhnya-lah duta wisata itu, dengan tingkatan berbeda-beda, misalnya daerah hingga negara bahkan internasional. Buku ini membuktikan bagaimana sepak terjang para mantan duta wisata berkiprah di berbagai bidang ilmu dan terjun ke masyarakat, tidak hanya untuk mewujudkan cita-cita pribadinya namun juga pengabdian bagi nusa bangsa. Buku yang lugas, menarik dan layak mengisi perpustakan pribadi anda di rumah dan kantor.”

(Fessy Farizqoh Alwi SH MKn – Notaris Jakarta/Mantan Wartawan Televisi-News Anchor)

 

“Seorang duta wisata berkiprah bukan karena gelar yang diperoleh akan tetapi dari niatannya sendiri. Saya percaya bahwa latar belakang budaya dan asal usul tidak menentukan siapa jati diri kita, tapi keinginan dan ketulusan kita dalam aksi nyatalah yang menunjukan siapa kita sebenarnya. Perlu diingat bahwa ‘pengabdian berbicara lebih dari pada sekedar gelar’.”

(Andre Wijaya Binarto, S.I.Kom, M.I.Kom – Marketing Manager PT Pundi Kencana, Food Stylist & Food Photographer)

 

“Menjadi duta wisata merupakan awal dari perjalanan karir kehidupan saya. Saya banyak belajar dari pengalaman menjadi seorang duta wisata yang saya gunakan dalam mengatur perencanaan hidup saya hingga sekarang. Duta wisata jadi langkah awal saya mengabdi ke masyarakat karena ilmu-ilmu yang saya dapat di sekolah dan kampus, bisa saya aplikasikan selama bertugas menjadi duta wisata. Saya banyak belajar  untuk memberikan apa yang saya miliki untuk orang lain, hingga saya percaya, dengan banyak memberi kita akan mendapat lebih banyak dari yang kita miliki.”

(Hijrah Saputra, ST  – Agam Provinsi Aceh 2008/Owner Piyoh Design/Co-founder The Leader)

 

“Kendati belum bisa menjalankan tugas secara maksimal ketika menjabat, masa bhakti sebagai duta wisata merupakan salah satu  life-changing experiences. Buku karya Agung ini sangat saya rekomendasikan untuk dibaca oleh siapa saja yang tertarik menjadi The Next Tourism Ambassador!”

(Isabella Fawzi, News Presenter)

 

“Dari dulu saya dan teman-teman agak risih ketika dianggap hanya sebagai ‘pajangan’. Mungkin masyarakat hanya menilai kiprah duta wisata dari satu sisi. Para public figure yang diulas dalam buku ini agaknya dapat mewakili kualitas jebolan para duta wisata.”

(Doddy Matondang)

 

“Lahirnya buku ini setidaknya menginspirasi pemuda pada umumnya dan duta wisata pada khususnya yang sarat akan prestasi. Terlebih pasca ‘lepas slempang’, ‘mahkota’, dan ‘baju kebesaran’. Setiap dari kita mempunyai perjalanan dan kemana arah hendak dilanjutkan. Mimpi tak hanya cukup sampai menjadi duta wisata, tapi hanya sebagian pendek ceerita  perjalanan cerita ke anak cucu kita kelak. Yang terpenting bangun networking saat menjabat, lalu memanfaatkannya ke depan untuk hal-hal yang positif. Bravo duta wisata dan budaya Indonesia. Kita adalah ‘spokesperson’ dunia pariwisata Indonesia.”

(Bachtiar Jamaluddin – CEO sewabusanabetawi.com)

 

“Duta wisata bukan berarti pemanis maupun pajangan berwajah tampan dan cantik. Namun sebagai duta wisata yang menjadi mitra pemerintah bahkan Agent of Change dalam pemajuan industri pariwisata di Indonesia. Buku ini mampu memberikan tips  dan trik menjadi the Next Tourism Ambassador, mewakili pengalaman dan prestasi terbaik yang sudah kami dapatkan saat menjabat maupun purna. Karena bagi saya pribadi,  menjadi duta wisata itu “setahun masa bhakti, selamanya menginspirasi. 2 jempol untuk Bang Agung yang telah berani mendeskripsikan semuanya dalam buku ini.”

(Riska Ega Wardani – Dyah Kabupaten Magetan Tahun 2009)

 

Persembahan

Buku sederhana ini saya persembahkan untuk bangsa Indonesia, khususnya para pemangku kepentingan di sektor pariwisata. Penulis berterima kasih sebesar-besarnya kepada para alumni duta wisata dari Sabang sampai Merauke  yang telah berpartisipasi dalam Survei Duta Wisata Indonesia Tahun 2015-2017. Juga kepada seluruh informan yang berkenan meluangkan waktunya dalam penulisan buku ini. Di antaranya:

 

  1. Agam Inong Provinsi Aceh
  2. Jaka Dara Provinsi Sumatera Utara
  3. Bujang Dara Provinsi Riau
  4. Bujang Gadis Provinsi Jambi
  5. Bujang Gadis Provinsi Sumatera Selatan
  6. Bujang Dayang Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
  7. Muli Mekhanai Provinsi Lampung
  8. Bujang Gadis Provinsi Bengkulu
  9. Udi Uni Sumatera Barat
  10. Abang None Provinsi DKI Jakarta
  11. Kang Nong Provinsi Banten
  12. Mojang Jajaka Provinsi Jawa Barat
  13. Raka Raki Provinsi Jawa Timur
  14. Mas Mbak Provinsi Jawa Tengah
  15. Dimas Diajeng Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
  16. Jegeg Bagus Provinsi Bali
  17. Nanang Galuh Provinsi Kalimantan Selatan
  18. Duta Wisata Provinsi Kalimantan Timur
  19. Jagau Bawi Nyai Provinsi Kalimantan Tengah
  20. Bujang Dare Khatulistiwa Provinsi Kalimantan Barat
  21. Nyong Noni Provinsi Sulawesi Utara
  22. Dara Daeng Provinsi Sulawesi Selatan
  23. Randa Kalibasa Provinsi Sulawesi Tengah
  24. Uti No’u Provinsi Gorontalo
  25. Jojaro Mongare Provinsi Maluku
  26. Putra Putri Duta Wisata Provinsi Papua
  27. Putra Putri Duta Wisata Provinsi Papua Barat
  28. Kang Nong Kabupaten Tangerang
  29. Kang Nong Kota Tangerang
  30. Mojang Jajaka Kota Bandung
  31. Gus Yuk Kota Mojokerto
  32. Mas Mbak Kota Salatiga
  33. Mas Mbak Kabupaten Cilacap
  34. Mbas Mbak Kabupaten Klaten
  35. Mojang Jajaka Kabupaten Kuningan
  36. Mas Mbak Kabupaten Grobogan
  37. Kacong Cebbing Kabupaten Sampang
  38. Cung Ndhuk Kabupaten Tuban
  39. Unting Manjan Kota Tarakan
  40. Denok Kenang Kota Semarang
  41. Kangmas Diajeng Kota Blitar
  42. Mojang Jajaka Kabupaten Bandung Barat
  43. Nanang Galuh Kabupaten Hulu Sungai Tengah
  44. Agam Inong Kota Banda Aceh
  45. Bujang Gadis Kota Bengkulu
  46. Atak Diang Kabupaten Barito Kuala
  47. Mas Mbak Kabupaten Semarang
  48. Kakang Mbakyu Kota Malang
  49. Abang Cut Kota Sabang
  50. Putra Putri Pariwisata Kabupaten Kubu Raya
  51. Abang None Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu
  52. Mojang Jajaka Kota Bogor
  53. Mojang Jajaka Kabupaten Bogor
  54. Beru Bujang Gayo Kabupaten Bener Meriah
  55. Cak Yuk Kabupaten Gresik
  56. Cak Yuk Kabupaten Pasuruan
  57. Abang Mpok Kota Depok
  58. Putra Putri Duta Wisata Kabupaten Kutai Timur
  59. Mojang Jajaka Kabupaten Sukabumi
  60. Kakang Ayu Kabupaten Probolinggo
  61. Kang Yuk Kota Probolinggo
  62. Jaka Dara Kota Medan
  63. Agai Ulai Kabupaten Berau
  64. Mojang Jajaka Kabupaten Tasikmalaya
  65. Gus Yuk Kabupaten Mojokerto
  66. Putra Putri Pariwisata Kabupaten Barito Utara
  67. Mojang Jajaka Kabupaten Indramayu
  68. Dimas Diajeng Kabupaten Sleman
  69. Bujang Gadis Kabupaten Bengkulu Selatan
  70. Bagus Dyah Kabupaten Magetan
  71. Bujang Gadis Kabupaten Kaur
  72. Putra Putri Pasola Kabupaten Sumba Barat
  73. Putra Putri Mahakam Kota Balikpapan
  74. Cak Ning Kota Surabaya
  75. Abang None Kota Administrasi Jakarta Barat
  76. Abang None Kota Administrasi Jakarta Utara
  77. Mas Mbak Kota Magelang
  78. Abang None Kota Administrasi Jakarta Selatan
  79. Kang Nong Kota Tangerang Selatan
  80. Kaka Teteh Kabupaten Pandeglang
  81. Abang None Kota Administrasi Jakarta Pusat
  82. Abang None Kota Administrasi Jakarta Timur
  83. Dimas Diajeng Kota Yogyakarta
  84. Bujang Dare Kota Pontianak
  85. Bujang Dayang Kota Pangkalpinang
  86. Kacong Jebbing Kabupaten Bondowoso
  87. Uda Uni Kota Padang
  88. Dara Daeng Kabupaten Takalar
  89. Dimas Diajeng Kabupaten Bantul
  90. Bujang Gadis Kota Jambi
  91. Kakang Sendhuk Kabupaten Ponorogo
  92. Kakang Mbakyu Kota Madiun
  93. Dara Daeng Kota Makassar
  94. Putra Putri Kota Surakarta
  95. Nyong Nona Kota Manado
  96. Teruna Teruni Kota Denpasar
  97. Kacong Cebbing Kabupaten Pamekasan
  98. Bujang Semulen Kabupaten Kapahiang

 

Berapa harganya? 

Rp 100.000,- untuk versi cetak (di luar ongkos kirim)

Rp 55.000,- untuk versi digital (beli di sini)

 

Mau Pesan? 

Bisa sekarang juga. Klik ini atau melalui pranala  bit.ly/BeliBukuDutaWisata

 

Masih Kepo? 

Mampir saja ke laman ini bit.ly/DutaWisata atau klik ini

 

 

Grand  +62 852 3050 4735 (Whatsapp/Telegram)

Krishna +62-819-0861-2832 (SMS/Phone)

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
Edit