Kelereng-Kelereng Kehidupan

Pada tahun 2016, saya mengambil Sabbatical. Sebuah keputusan tidak populer dalam perspektif masyarakat Indonesia kekinian. Sebuah pilihan yang memungkinkan saya bertemu dengan ribuan orang dalam misi mencari “diri yang hilang”.

Sabbatical memang masih asing di negeri ini. Di Barat program ini awalnya hanya dikenal di kalangan akademisi. Mereka meninggalkan rutinitas akademik dalam kurun waktu tertentu demi kepentingan riset, menulis ilmiah atau kegiatan lain dengan tetap mendapatkan benefit dari institusinya mengabdi.

Dalam perkembangannya, Sabbatical tidak lagi menjadi “monopoli” kaum akademia. Di ranah korporasi, perusahaan yang membolehkan karyawannya untuk mengambil Sabbatical Leave semakin banyak. Mereka diizinkan untuk cuti dari satu bulan hingga beberapa tahun dengan dibayar maupun tidak.

Kata Sabbatical sendiri berasal dari bahasa Ibrani “Shabbat” yang berarti istirahat, cuti, atau berhenti sementara dari pekerjaan. Dalam perspektif bisnis, Sabbatical identik dengan Career Break. Sebuah fase yang biasanya dimanfaatkan untuk jalan-jalan, menjadi relawan, mengikuti pelatihan, mendalami keahlian tertentu, membesarkan anak, merintis perusahaan, menyembuhkan diri dari penyakit atau pengembangan diri secara umum.

Inggris merupakan salah satu negara yang masyarakatnya sangat sadar akan pentingnya Sabbatical. Menurut temuan dari berderet lembaga, dalam beberapa tahun terakhir sekitar tiga perempat warga Inggris mempertimbangkan untuk mengambil jeda karir (Career Break). Itu mengapa tidak kurang dari 90.000 orang di sana menikmati jeda setiap tahunnya. Sementara itu di Amerika Serikat juga tak kalah menarik untuk ditelaah. Dari hari ke hari makin banyak warga negeri Paman Sam yang menikmati jeda. Meskipun kadang-kadang pengertiannya saling tumpang tindih dengan Gap Year.

Saya sendiri mengambil Sabbatical di sepanjang tahun 2016. Suatu fase yang saya manfaatkan benar-benar untuk menjadi relawan, mengembangkan hobi, mencoba beberapa profesi baru, dan jalan-jalan. Suatu periode yang mempertemukan saya dengan seorang “guru” kehidupan. Sebut saja bernama Khrisna.

Khrisna mengajarkan saya akan makna hidup. Dalam kaca matanya, kehidupan bisa diibaratkan dengan (kumpulan) kelereng dalam gelas.

Menurut Khrisna, kelereng dianalogikan bulan. Anggap saja rata-rata angka harapan hidup kita 70 tahun. Itu artinya, jumlah kelereng kehidupan kita ialah 70 x 12 + 840. Selanjutnya, semua kelereng yang kita miliki tersebut dimasukkan dalam gelas.

Setiap tahun kita merayakan hari kelahiran. Itu artinya kita kehilangan 12 kelereng di dalam gelas. Semakin bertambah umur, hakekatnya semakin berkuranglah kelereng kita.

Sekarang sejenak kita bisa menengok kehidupan kehidupan masing-masing. Tinggal tersisa berapakah jumlah kelereng dalam gelas kita? Kita memang tidak tahu secara pasti. Namun paling tidak kita bisa lebih menghargai detik demi detik, dalam mengarungi samudera kehidupan.

Sabbatical mungkin bukan pilihan bijak bagi sebagian orang. Namun tidak sedikit saudara kita di luar sana, yang menemukan makna kehidupan di perjalanannya.

Mengambil Sabbatical atau tidak ialah pilihan. Namun yang pasti, saya jadi teringat salah satu pesan mengesankan dari mendiang pendiri Apple Steve Jobs yang menegaskan bahwa. “Waktu Anda terbatas, jadi jangan sia-siakan dengan ‘hidup dalam kehidupan orang lain’. Jangan terjebak oleh dogma – yaitu hidup dengan hasil pemikiran orang lain. Jangan biarkan suara opini orang lain menenggelamkan suara hati Anda sendiri. Hal yang terpenting, beranilah untuk mengikuti hati dan intuisi Anda”.

 

*) Artikel ini pertama kali dimuat di Intipesan, 7 Maret 2018 

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
Edit