Menyikapi Masa Depan

 

          Sejak kita duduk di bangku Sekolah Dasar (atau mungkin di Taman Kanak-Kanak), guru senantiasa bertanya,” nak nanti kalau sudah gede mau jadi apa?”. Sontak satu kelas pun jawabannya berbeda. Dokter, pilot, polisi, penyanyi, dan guru barangkali di antara jawaban yang paling populer. Memasuki tingkat Sekolah Menengah Atas, pertanyaan yang sama makin heboh untuk disikapi. Namun, di fase ini kebanyakan sudah mulai realistis dengan pilihannya. Oleh karenanya, tidak sedikit yang sudah mantap dengan jurusan perkuliahan, mau kerja di bidang apa dan seterusnya.

Di pekan-pekan awal perkuliahan, setiap mahasiswa baru lazimnya ditanya oleh dosen mengenai motivasi mengambil jurusan tertentu. Sontak satu kelas memiliki jawaban yang beraneka. Anak FK sudah pasti ingin menjadi dokter, anak FISIP banyak yang ingin jadi negarawan atau aktivis sosial, anak FIB banyak yang bermimpi sebagai sastrawan, anak FIKOM sebagian besar ingin bergelut di bidang media atau kehumasan, anak FEB sebagian besar ingin menjadi pengusaha atau bekerja di perusahaan multinasional. Dan sebagainya.

Lima tahun setelah lulus dari perkuliahan, jika ditanya mengenai cita-cita mungkin jawabannya akan mengagetkan. Ada anak FK yang mantap menjadi pengusaha lantaran bisa memperkerjakan banyak orang, ada jebolan jurusan pariwisata yang “tersesat” di bidang kehumasan, ada anak FISIP yang menikmati hari-harinya sebagai bankir, banyak pula yang masih gelisah dengan pilihan karirnya. Yang perlu digarisbawahi, di fase ini mimpi kita di waktu kecil atau di masa perkuliahan sedang diuji. Seberapa besar idealisme kita “bersahabat” dengan pragmatisme, seberapa kuat tekad kita mengejar cita di tengah masalah yang terus mendera, seberapa tinggi keshalehan sosial kita untuk mengiringi ego yang membuncah, atau seberapa yakin diri kita memandang masa depan?

Masa depan. Ya, kata ini paling sering disebut-sebut oleh pengejar mimpi di tingkatan manapun. Demi masa depan, banyak orang habis-habisan harta untuk dapat sekolah. Sebagian ada yang rela menggadaikan keimanannya. Sebagian yang lain tega mengkhianati teman dan keluarganya. Tidak sedikit juga yang masih berada di rel nan lurus. Yang membedakan adalah bagaimana mereka menyikapinya.

Di sekeliling kita, ada begitu banyak pelajaran dari orang-orang dalam menyikapi masa depan. Ada yang berani pergi ke dukun untuk mencari pesugihan. Ada yang bekerja 18 jam perhari untuk memenuhi target penjualan. Ada yang hanya tidur empat jam perhari untuk menjadi orang paling ahli di satu bidang. Sebagaian rela menggemplang uang negara demi perut keluarga. Sebagian yang lainnya hanya mengikuti arus lantaran takut mengambil resiko.

Di manapun, memang ada saja orang-orang yang menghalalkan segala cara untuk meraih cita. Tapi, masih ada banyak orang yang mengejar mimpi masa depan dengan cara-cara terpuji: bekerja keras, bekerja cerdas, bekerja ikhlas, bekerja tuntas, dan bekerja dengan totalitas.

Saya jadi teringat pesan Pak John M. Richardson Jr. “When it comes to the future, there are three kinds of people: those who let it happen, those who make it happen, and those who wonder what happened.”

Di antara tiga tipe di atas, masuk di kategori manakah Anda?

Semoga saya dan Anda sekalian berada pada sisi yang (seharusnya) benar. Menyikapi masa depan dengan mimpi, keyakinan dan berusaha mewujudkan (atau menciptakannya). Karena masa depan Anda ditentukan dari apa yang kita lakukan sekarang.

 

*) Artikel ini dimuat di Intipesan, 28 Oktober 2017 

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *