Anda Ingin Menjadi Sebaik Apa?

 

Baru-baru ini saya beranjangsana di kediaman Vishnu (bukan  nama sebenarnya). Beliau merupakan salah satu pangarang papan atas di Asia. Karya-karyanya menghiasi daftar buku terlaris di kawasan ini.

Seperti biasa, pertemuan diawali dengan berbasa-basi. Mengenal satu sama lain. Latar belakang pendidikan, pekerjaan, bisnis, hobi, rumah tangga, hingga bagaimana memandang kehidupan.

Sebagai Gen Y yang masih haus dengan pengalaman, pertemuan seperti ini jelas tidak saya sia-siakan begitu saja. Terlebih lagi, tidak mudah mendapatkan slot wawancara untuk orang sekaliber Vishnu yang setiap saat “mondar-mandir” di bandara. Salah satu pertanda betapa tingginya mobilitas pria itu.

Jika disarikan, sebenarnya ada berderet pesan moral yang disampaikannya. Namun, dari seabrek itu ada satu yang paling berkesan bagi saya. Tidak lain, tidak bukan ialah pertanyaan, “anda ingin menjadi sebaik apa”.

Jujur, pertanyaan tersebut benar-benar menampar hati saya. Sederhana tapi begitu mendalam maknanya. Mungkin juga berlaku bagi Anda.

Sering kali kita memiliki angan-angan besar. Acap kali kita didorong lingkungan untuk bermimpi setinggi-tingginya. Tidak jarang kita mendapatkan “tekanan sosial” untuk mencapai target-target tertentu. Sudah terbiasa kita mematok diri sendiri untuk melakukan X, memiliki Y, dan menduduki Z.

            Pertanyaan saya sekarang ialah, “anda ingin menjadi sebaik apa?” Sah-sah saja menetapkan mimpi, tujuan atau target. Tapi, apakah kita siap membayar harganya? Mudah saja berangan-angan, tapi apakah kita berkomitmen untuk mewujudkannya?

Target hanyalah target jika kita hanya diam. Mimpi hanyalah mimpi jika kita bermalas-masalan. Tujuan hanya tujuan jika kita tidak melakukan apa-apa.

Sebagian besar orang sebenarnya sudah berupaya untuk mewujudkan mimpi, tujuan, dan target hidupnya. Tapi tidak semua berhasil mereguknya. Di mana kesalahannya?

Sangat mudah dijawab. Biang keladinya bernama “standar” atau “batas toleransi” yang kita buat sendiri di alam pikiran.

Misalnya nih. Steve ingin menjadi Salesman dengan penghasilan minimal 1 Miliar perbulan. Untuk mencapai itu, setidaknya ia harus melakukan cold calling kepada 100 orang perhari dan bertatap muka langsung kepada 20 orang. Setiap saat, ia mendapati masalah yang mengancam targetnya. Entah karena faktor cuaca, prospek yang “kurang berpihak”, kemacetan jalan, kesehatan, kecapekan, hingga mood yang fluktuatif.

Jika Steve memang benar ingin menjadi orang yang keren, sudah selayaknya ia membayar “harga” untuk mendapatkan minimal 1 M perbulan. Namun, setinggi apa Steve memberikan toleransi kepada dirinya jika faktor-faktor eksternal yang menghambat datang kepadanya? Di titik itulah motivasi sesorang diuji. Apakah ia benar-benar memiliki “panggilan” untuk do something atau sebaliknya.

Contoh yang paling mudah juga berlaku di bidang politik. Katakanlah Anda saat ini sudah berhasil menjadi walikota di daerah Anda. Jika ambisi Anda besar, bukan tidak mungkin Anda akan mengejar posisi yang lebih tinggi seperti gubernur, menteri, hingga presiden. Jika Anda cukup berpuas diri dengan menjadi walikota, itulah yang menjadi “batas” atau “toleransi” yang Anda ciptakan di alam pikiran sendiri. Itulah ukuran keberhasilan yang Anda patok sendiri. Itulah target, tujuan, atau mimpi versi Anda.

Bagi sebagian orang, menjadi walikota bisa jadi sudah membuat hati merinding karena kagum. Bagi sebagian lainnya, bisa jadi belumlah apa-apa. Nah, itulah artinya target, tujuan, atau mimpi yang bermuara pada pikiran. Satu hal yang bersumber pada pertanyaan, “anda ingin menjadi sebaik apa?”

Semoga apa yang disampaikan Vishnu menjadi pelajaran bagi kita semua. Sukses atau gagal bagi setiap orang itu relatif. Besar atau kecilnya mimpi bagi setiap individu itu subyektif. Semua kembali kepada hati nurani Anda. Anda ingin menjadi sebaik apa?

 

Artikel ini dimuat di Inti Pesan, 7 September 2017. 

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *