Apa Guna Berkejar-Kejaran?

Tabik.

Beberapa bulan lalu saya bertemu dengan sahabat lama saya. Sebut saja bernama Sekar. Kami pernah sama-sama bekerja di salah satu organisasi nirlaba papan atas Indonesia yang tidak lain adalah “kantor” resmi pertama saya sebelum menamatkan sarjana.

Sekar saat ini belajar dan tinggal di Denmark. Ia berstatus sebagai mahasiswa penerima beasiswa Pemerintah Denmark sekaligus satu dari segelintir diaspora nusantara di sana.

Sekar merupakan potret kelas menengah atas Ibukota. Ia lahir dan dibesarkan di tengah keluarga yang “berada”. Ayahnya seorang pengusaha, sedangkan kakeknya adalah seorang Duta Besar RI untuk Italia di era Soeharto. Sejak kecil, ia sudah terbiasa berkeliling dunia mengikuti kerja sang ayah dan kakeknya. Tak  mengherankan jika ia merupakan polygot (orang yan menguasai beragam bahasa).

Sekar berparas ayu. Jika dari samping, wajahnya benar-benar mirip dengan Dian Sastro Wardoyo. Ia hanya terpaut beberapa centimeter lebih pendek dari pemeran Cinta tersebut.

Sebagai gadis Ibukota dari keluarga papan atas, sejak belia Sekar mendapatkan fasilitas terbaik dari kedua orang tuanya. Ia lulus dari jurusan Ilmu Komunikasi dari sebuah kampus di pinggiran Jakarta. Sebelum lulus, ia sempat magang di PBB Kantor Jakarta sebelum bergabung dengan kantor tempat kami berjumpa.

Sekar sempat berpacaran dengan George (bukan nama sebenarnya). Seorang pria jebolan Institut Teknologi Bandung jurusan Arsitektur dan MBA dari Cambridge University, Inggris. Setamat dari Tanah Eropa, George mendirikan sebuah Think Tank yang didukung oleh salah satu tokoh nasional. Singkat cerita, Sekar dan George benar-benar seperti pasangan ideal. Dilihat dari sudut pandang apapun. Berparas apik, mapan secara finansial, berpendidikan tinggi, datang dari keluarga terpandang, dan mandiri. Benar-benar sempurna.

Namun, nasib orang tiada yang tahu. Setelah bertahun-tahun menjalin ikatan asmara, keduanya memutuskan untuk berpisah.

Sebagai “tindak lanjut” dari statusnya yang menjomblo, baru-baru ini Sekar menulis sebuah status di Facebook yang membuat heboh. Pasalnya, ia mengungkapkan pesan di saat yang tepat bernama lebaran.

Alih-alih “terpukul” karena ditanya ini-itu, ia memiliki ide cemerlang untuk “membalas balik” ketika momen silaturrahmi khas Idul Fitri datang.

  • Ketika ditanya, “kapan menikah”. Serang balik dengan “apa saja pencapaian setahun terakhir?”
  • Ketika ditanya, “kapan punya anak”. Serang balik dengan “resolusi mana yang belum terwujud?”
  • Ketika ditanya, “kapan puya mobil baru”. Serang balik dengan “sudah liburan ke mana saja setahun terakhir?”
  • Ketika ditanya, “kapan renovasi rumah”. Serang balik dengan “apa yang telah Anda lakukan untuk orang-orang di sekeliling kita”

Jurus serang balik di atas sama sekali bukan untuk menyombongkan diri atau sikap negatif. Namun, hanya untuk afirmasi diri. Menyikapi hidup dengan benar.

Mengapa saya tekankan seperti itu?

Momen lebaran yang datang hanya setahun sekali bukan malah untuk menyambung tali komunikasi secara tulus. Tapi telah ternodai dengan pola komunikasi yang destruktif.

Para jomblo “tertampar” ketika ditanya kapan nikah. Para pengantin baru “terpukul”  karena didesak untuk segera memiliki momongan. Para ayah “tersinggung” ketika disindir atas kepemilikan kendaraan hingga tempat tinggal. Para remaja “tersungkur” karena merasa tersaingi oleh rekan-rekannya yang baru saja membeli gawai keluaran terburu. Para ibu “tertekan” ketika mendengar orang-orang sekaumnya baru saja bepergian ke tempat-tempat wah.

Momen-momen berkumpul seperti lebaran dan reuni sudah mulai kehilangan ruhnya. Sudah bukan lagi ajang untuk menyambung ikatan persaudaraan dan pertemanan. Tapi sudah melenceng sebagai ajang pamer status kekayaan, kekuasaan dan ketenaran. Sudah menjadi wadah untuk sok-sokan.

Mungkin ini tidak terjadi di setiap tempat. Tapi setidaknya sering kita jumpai di sekitar kita. Entah disadari atau tidak.

Pada akhirnya, cepat atau lambat kita akan tersadar. Bahwa hidup bukanlah tentang kejar-mengejar. Karena toh jalan hidup individu berbeda-beda.

Setiap orang memiliki orbit masing-masing. Apa guna silau dengan pencapaian tetangga?

Rezeki telah digariskan oleh Sang Hyang Widi Wasa. Apa guna iri dengan kepemilikan duniawi rekan-rekan terdekat?

Setiap pribadi memiliki masalah tersendiri. Apa guna diperbandingkan hasilnya?

Daripada capek mengurusi orang lain. Mengapa kita tidak berintropeksi diri? Bukankah umur kita  di dunia makin pendek dari hari ke hari? Bukankah kebahagiaan ada di dalam diri? Untuk apa semua yang kita perjuangkan di dunia ini? Saya yakin nurani Anda sudah memiliki jawaban terbijak.

 

Artikel ini pertama kali dimuat di HR Plasa, 5 September 2017

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

One thought on “Apa Guna Berkejar-Kejaran?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *