Hidup Sejatinya Rangkaian dari Pilih-memilih

Bernas

Bagi Agung Setiyo Wibowo, hidup adalah memilih. Baginya, untuk dapat memilih dengan baik, Anda harus tahu siapa diri Anda, untuk apa Anda ada, ke mana Anda ingin pergi, dan mengapa Anda ingin sampai di sana. ”Hidup sejatinya merupakan rangkaian dari pilih-memilih. Dari urusan yang paling sederhana seperti memilih menu makanan, kostum, dan hangout hingga yang paling rumit seperti jodoh, pekerjaan, dan rumah tinggal. Siapapun yang ingin sukses secara lahir ataupun batin tidak bisa dilepaskan dari urusan memilih. Dan itu semua bermuara pada self-discovery,” ungkapnya ke Bernas (28/4).

Ya, hidup adalah memilih. Pada 30 Desember 2015, ia memilih mengundurkan diri di sebuah firma konsultansi manajemen ternama di Indonesia. Padahal, posisinya (sekaligus gaji), waktu itu bisa dikatakan sudah lumayan. “Itu mengapa, banyak orang yang menyayangkan keputusan saya yang dianggap ‘tidak populer’. Lalu, apa yang saya lakukan? Saya ingin memenuhi cita-cita saya menjadi seorang Profesor ketika masih kuliah S1. Jadi, terhitung 1 Januari 2016, saya belajar siang dan malam untuk fokus persiapan PhD di Amerika Serikat. Ribuan buku dan jurnal ilmiah saya lahap. Saya mondar-mandir dari satu perpustakaan ke perpustakaan lain di Ibukota,” ujarnya.

Saat itu, ia merasa hidup memang tidak selamanya seperti yang kita inginkan. Setelah 6 bulan mati-matian mempersiapkan PhD, hasilnya tidak seperti yang direncanakan. Ia berpikir dengan fokus belajar di perpustakaan bisa mempercepat proses untuk Strata Tiga, tapi kenyataannya tidak demikian. “Jenjang Doktoral berbeda sekali dengan dua jenjang sebelumnya. Jadi, semakin banyak saya baca, semakin bertambah pula kebingungan saya. Mengapa itu terjadi? Karena saya memiliki terlalu banyak alternatif topik  penelitian sehingga, sulit  untuk bisa  yakin dengan satu atau dua Research Question,” jelasnya.

Ketika itu, dunia seperti kiamat saja. Kepercayaan diri yang sebelumnya setinggi langit, tiba-tiba habis tak tersisa. Ia berada di titik terendah dalam hidup. Bisa dikatakan down dan depresi berat. Ia merasa sudah mengorbankan semua waktu, tenaga, pikiran, dan biaya dari jauh-jauh hari sejak pertama kuliah S1 apalagi sudah mengorbankan diri untuk resign hanya untuk PhD. “Terlebih lagi semua anggota keluarga, sahabat, dan rekan kerja sudah saya beritahu niat saya untuk pergi ke Negeri Paman Sam. Apa kata mereka ketika saya gagal? Saya benar-benar merasa menjadi orang paling gagal. Pesimisme dan pikiran negatif pun menguasai pikiran. Menyalahkan diri, kecewa, dan menyesali diri merupakan sikap yang saya ambil waktu itu,” terangnya.

Namun, ia tidak ingin berlama-lama dalam kubangan kegalauan. Setelah merasa 6 bulan berjuang untuk PhD tanpa hasil di Jakarta, ia pulang kampung  dengan “beban moral” yang maha berat. Ia pun mengambil jeda sejenak dari hiruk-pikuk ambisi akademik. “Dan Voila . . .saya mendapatkan kesempatan mengajar di sejumlah perguruan tinggi. Beberapa kampus di Pulau Jawa, hingga di Jayapura, dan Tanjungpinang. Setelah saya renungkan, saya memilih untuk mengajar di Tanjungpinang, Ibukota Provinsi Kepulauan Riau. Karena saya pikir, kota-kota di Pulau Jawa sudah sangat semrawut. Bukan main macetnya. Bukan rahasia lagi betapa sesaknya manusia di situ,” katanya.

Selanjutnya, yang dilakukan di semester kedua tahun 2016, ia menjadi dosen dan trainer di ibukota provinsi yang kebetulan terletak di Pulau Bintan. “Saya sengaja mengajar untuk mencoba, apakah menjadi dosen merupakan hal yang benar-benar saya inginkan. Di saat yang bersamaan, saya mendirikan Bintan Intitute. Sebuah forum pelatihan yang menyasar kawula muda. Jadi, saya bertindak sebagai pendiri sekaligus Master Trainer. Saya memberikan pelatihan berbagai topik, mulai dari Personality, Self-Discovery, Personal Mastery, Public Speaking, English Proficiency, Leadership, Communications, hingga Writing. Para mahasiswa yang saya latih ternyata sangat antusias. Kepercayaan diri saya pun meningkat berlipat-lipat,” ujarnya.

Di awal 2017 ini, ia pun mendapati diri dalam titik balik karena merasa lebih menikmati menjadi seorang Trainer daripada Dosen. “Meski saya sadar keduanya sama-sama membagikan ilmu. Meski saya tahu keduanya juga bisa dikatakan sebagai seorang guru. Sebuah profesi yang saya impikan di masa SD,” imbuhnya.

Di bulan kelahirannya (Februari), ia pun  memilih untuk mengambil keputusan besar. “Rencana untuk menetap di Pulau  Bintan hingga PhD di Amerika saya kubur. Dengan berat hati, saya meninggalkan Tanjungpinang yang begitu cantik alam dan budayanya. Dengan sangat menyesal, saya harus berpisah dengan para mahasiswa dari Negeri Segantang Lada yang saya cintai. Saya kembali meniti mimpi di Jakarta,” tuturnya.

Baginya, tahun 2016, ia sebut sebagai Sabbatical atau bisa juga dinamakan Gap Year. Sebuah masa jeda untuk pencarian diri. “Sebuah Career Break yang saya habiskan dengan menulis tiga buku, ratusan artikel, traveling, mengajar, dan mencoba hal-hal baru. Sebuah masa yang menyadarkan saya bahwa hidup ibarat roda yang terus berputar. Mirip Roller Coaster,” ucapnya.

Ia pun membagikan inspirasi dan sarannya kepada orang lain yang membaca kisah Anda ini. “Bahwa hidup ini singkat. Daripada mengejar kebahagiaan semu, alangkah lebih bijaksananya untuk memperjuangkan kebahagiaan hakiki. So, self-discovery is the first step to get all what you want, to have, and to become. Untuk saran, kenali potensi diri sendiri. Bisa dimulai dari minat, bakat, kekuatan (kelebihan), dan kelemahan (kekurangan). Dari situ, kita bisa membuat peta jalan pribadi yang dapat diturunkan menjadi goal-goal jangka panjang dan pendek. Dan diturunkan lagi menjadi rencana aksi. Anda harus menjadi orang yang paling tahu mengenai diri sendiri dibandingkan oleh siapapun,” bebernya.

Penyuka hobi bercerita ini membocorkan project dalam waktu dekat dan impiannya. Untuk project, menerbitkan 3 (tiga) buku. Satu sudah selesai ditulis tinggal mencari penerbit. Satu sedang ditulis. Dan yang terakhir masih dalam tahap riset.  Untuk impian, memiliki social enterprise yang fokus pada bidang pengembangan diri, kepemimpinan, dan pendidikan. Selain itu, menerbitkan lebih banyak lagi buku-buku bermutu yang bisa mengubah hidup orang banyak. Pada akhirnya, bisa membantu pemerintah dalam pemberdayaan sumber daya manusia,” pungkasnya.

 

Sumber: Harian Bernas, 5 Mei 2017 

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *