Membalikkan Inferiority Complex

Sepanjang 2016 saya menghabiskan waktu produktif saya dengan Sabbatical. Sebuah episode hidup yang saya isi dengan kontemplasi, menekuni hobi, jalan-jalan dan menjadi sukarelawan pengajar di sebuah pulau yang hanya terpaut satu jam perjalanan via ferry dari Singapura dan Malaysia.

Belakangan setelah saya renungkan kembali, Career Break tersebut merupakan salah satu keputusan terbaik yang pernah saya ambil dalam hidup. Kendati tidak begitu populer di tengah masyarakat yang lebih menghargai “kesibukan”.

Mungkin sebagian dari Anda bertanya-tanya, “bagaimana mungkin saya menyia-nyiakan usia emas saya dengan kegiatan yang tak menghasilkan materi? ”Bisa jadi sebagian lainnya menambahkan, “apa untungnya mengambil Gap Year?”

Apapun kata orang, saya begitu menikmati masa jeda. Suatu fase yang memberikan saya kesempatan wawancara dengan ribuan orang dan membaca ribuan buku.

Salah satu tokoh yang saya pelajari kisah hidupnya pada masa Sabbatical ialah Mahathir Mohamad – mantan perdana menteri sekaligus Bapak Pembangunan Malaysia. Sosok yang lahir di Alor Setar, Kedah ini pada tahun 2017 berusia 92 tahun. Ayah beliau merupakan keturunan India yang berprofesi sebagai guru. Sedangkan ibunya merupakan kaum Melayu semenanjung. Secara ekonomi keduanya hidup secara pas-pasan. Terlebih lagi pada masa itu pengaruh kolonial Inggris masih sangat kental. Sehingga, hanya warga keturunan raja atau “penjajah” yang dapat hidup makmur. Tak berbeda jauh dengan realita di Indonesia pada zaman kolonial Belanda.

Mahathir tampil sebagai sosok yang sangat pemberani, cemerlang di bidang akademik, dan tak mau kalah (kiasu). Tamat dari jenjang SMA, beliau sempat ‘down’ lantaran impian untuk kuliah Hukum di Inggris kandas walaupun prestasinya begitu memukau. Tak mau berlarut-larut dalam kegalauan, ia sempat berdagang di pasar local bersama teman-temannya. Di tahun berikutnya, beliau mendapatkan beasiswa di Singapura dengan jurusan Kedokteran.

Semasa kuliah di Singapura, beliau aktif dalam berorganisasi. Prestasi akademiknya berhasil dipertahankan. Yang paling mengesankan, pemikirannya kerap kali diterbitkan dalam harian berpengaruh The Strait Times walau harus memakai nama samaran. Lulus dari Singapura, beliau mengamalkan ilmunya melalui praktek kedokteran sebagaimana dokter-dokter muda lainnya. Selang beberapa lama, beliau membuka klinik sendiri atas bantuan kakak iparnya. Di usia 30 tahun, beliau terpanggil hatinya untuk berpolitik guna mengembalikan (atau lebih tepatnya mengangkat) marwah kaum Melayu yang menjadi budak di negeri sendiri.

Berkat kegigihannya, beliau berhasil menjadi perdana menteri selama 22 tahun dengan pencapaian yang “tidak main-main”. Walau dikenal sangat rasis, beliau dikenal sebagai “bapak pembangunan”, yang menyulap Malaysia dari negara antah berantah menjadi negara yang cukup disegani. Hal itu ditandai dengan menara kembar Petronas, hadirnya sirkuit Sepang, dibangunnya Putrajaya, jaringan tol yang menghubungkan tepian Semenanjung hingga Sarawak dan Sabah, kenaikan signifikan pendapatan perkapita warganya dan masih banyak lagi.

Namun tak banyak yang tahu apa rahasia di balik keberhasilan Mahathir. Apakah karena sebuah keberuntungan ataukah memang sungguh-sungguh diupayakan. Namun yang menarik untuk dicermati adalah bagaimana perjalanannya semenjak usia kanak-kanak hingga remaja. Serta bagaimana gaya mendidik orang tuanya, sehingga mampu melahirkan sosok fenomenal sepertiitu.

 

Dari Inferiority Complex ke Superiority Complex

Ditinjau dari kacamata psikologi, Mahathir sejatinya mengalami apa yang disebut dengan Inferiority Complex. Adalah sebuah kesehatan mental yang ditandai dengan rendahnya harga diri, keraguan, dan ketidakpastian. Dari alam bawah sadar, orang seperti ini cenderung memiliki rasa dendam, keterasingan, dan depresi. Adapun bagi banyak orang, keadaan ini disulut oleh kombinasi antara karakateristik kepribadian genetik dan pengalaman pribadi.

Inferiority Complex sebenarnya merupakan masalah psikologis yang jelas merugikan diri sendiri. Orang yang mengidap kondisi ini biasanya melabeli diri sendiri sebagai orang yang lemah, bodoh, jelek, tertinggal, kalah, tak berdaya, dan hal-hal negative lainnya. Hal tersebut ditunjukkan mulai dari lingkungan RT sampai sekolah. Pun diperparah dengan adanya penolakan dari teman dan keluarga. Juga harapan yang terlalu tinggi dari orang lain yang menjadikan dirinya makin terpuruk.

Namun, seorang Mahathir tidak menyerah begitu saja ketika mengidap Inferiority Complex. Dia dari kecil menyadari sebagai orang yang cukup asing. Terlahir bukan dari keturunan raja Melayu semenanjung. Bukan dari keturunan kolonial Inggris. Bukan dari keturunan China yang biasanya sukses berdagang. Ia hanya terlahir dari keluarga keturunan India yang serba pas-pasan. Apalagi, ia dibesarkan di sebuah kota kecil yang tidak semaju Penang, Melaka, atau Kuala Lumpur.

Menyadari segala kekurangan yang tersemat pada dirinya, Mahathir dididik oleh orang tuanya dengan tidak sembarangan. Sebagai anak bungsu dari sembilan bersaudara, ia mewarisi tiga nilai dari ayahnya: disiplin, kerja keras, dan perbaikan diri sendiri. Nilai itu menjadi “cambuk” bagi dirinya untuk menjadi yang terbaik.

Sejak remaja, Mahathir bermimpi untuk menjadi seorang pemimpin. Menyadari hal itu, ia selalu berusaha untuk mewujudkannya dari hal-hal yang terkecil. Selalu  get things done. Menjadi aktivis politik di kampus, menulis pemikirannya di harian ternama dan meluaskan pengaruhnya dengan strategi yang kreatif.

Mahathir berhasil membalikkan Inferiority Complex menjadi Superiority Complex. Merasa sebagai “orang luar” (keturunan India) yang besar dan tumbuh di tengah kaum Melayu yang tertinggal, ia menasbihkan dirinya sebagai pemimpin. Oleh karenanya, di setiap tangga karirnya selalu memberikan yang terbaik. Dengan mewujudkan hal-hal yang oleh orang banyak dianggap tidak masuk akal. Ia memiliki kemauan yang kuat untuk mengikuti visinya, tidak gentar dengan segala kritikan, berani mengambil keputusan tidak populer, dan tidak pernah lelah untuk memberi dampak bagi orang banyak.

Satu kutipan yang saya ingat dari Mahathir Mohamad adalah fight harder, shout louder & build bigger.  Bagi beliau untuk mewujudkan visi yang luhur kita harus berani untuk berjuang lebih keras, bersuara lebih lantang dan membangun sesuatu yang lebih besar dari orang kebanyakan. Tapi itu saja tidak cukup. Kita harus berani bersikap, berpikiran, dan bertindak layaknya Maverick. Sebuah kata yang menurut Kamus Oxford diartikan sebagai An unorthodox or independent -minded person. Seorang yang menurut etnis Sunda harus kekeuh  dalam mewujudkan apa yang benar-benar diinginkan dalam hidupnya.

Are you ready to turn your inferiority complex to become a maverick like Mahathir Mohamad?

 

Artikel ini dimuat di Inti Pesan, 16 Agustus 2017

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *