Kebebasan Yang Seperti Apa?

Kebahagiaan, keberhasilan, dan kesehatan. Tiga kata itu nampaknya paling populer disuarakan oleh siapa saja dalam “berjuang” menjalani kehidupan yang hanya sementara ini.

Ya, setiap orang saban hari “bersaing” dengan egonya sendiri untuk mencapai titik bahagia. Demikian halnya untuk mencapai derajat keberhasilan, siapapun sepertinya akan berusaha sekuat tenaga – lahir dan bathin – untuk mencapainya. Tak ketinggalan, untuk mereguk kesehatan siapa saja harus rutin berolahraga, tidur cukup, tidak kekurangan air mineral, dan menjaga asupan gizi.

Belakangan, ada satu kata lagi yang “tidak kalah” tenar diperbincangkan. Apa itu? Ya, Anda benar. Ia adalah kebebasan.

Setiap orang secara naluriah tidak ingin hidupnya diatur oleh orang lain. Setiap anak Adam pada hakikatnya (jika tidak ada hambatan finansial) ingin bersenang-senang memenuhi keinginan dan kebutuhannya. Siapapun sepertinya mendambakan kebebasan waktu untuk melakukan A ke Z. Sesuka hatinya.

Lalu, adakah sejatinya kebebasan itu? Jika ada, seperti apa? Nampaknya, perdebatan kusir tiga hari tiga malam tidak akan cukup untuk mencapai mufakat guna memaknai kebebasan. Ya, kebebasan itu relatif. Setiap “kepala” punya definisi masing-masing.

            Oxford Dictionary saja memaknai kebebasan sebagai The power of right to act, speak, or think as one wants.Sedangkan Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan akar kata “bebas” dengan “lepas sama sekali” yaitu tidak terhalang, terganggu, dan sebagainya sehingga dapat bergerak, berbicara, berbuat, dan sebagainya dengan leluasa.

Saya secara pribadi langsung teringat curahan hati beberapa rekan dekat saya.

Si A, 25 tahun, lajang. Profesi sehari-hari sebagai agen asuransi dan pemasaran jaringan. Penghasilan mencapai lebih dari 1 Miliar rupiah perbulan. Setiap kali bertemu dengan teman lama dan kenalan baru ia “menggoda” (dan membujuk) agar yang bersangkutan mengikuti profesinya dengan dalih kebebasan waktu. Si A ini secara finansial (kelihatannya) memang berkelimpahan, pun waktu. Tapi sejatinya dia tidak “sebebas” yang ia koarkan. Bisa saja sih dia liburan setiap hari ke manapun yang ia mau, membeli apapun yang ia suka, dan berleha-leha di ranjang. Tapi, tidak demikian dengan A. Setiap saat dia terus bekerja, bekerja, dan bekerja. Kadang kala ia kesepian karena tidak ada yang mendikte dirinya. Oleh karena itu, ia harus mau dan mampu memimpin diri sendiri agar dapat “bebas”. Si A masih punya sederet daftar mimpi untuk dikejar.

Si B, 75 tahun, menikah dengan 2 anak dan 4 cucu. Beliau adalah mantan CEO perusahaan multinasional yang saat ini menjadi pimpinan organisasi nirlaba dengan fokus pendidikan untuk anak kurang beruntung. Dari kacamata finansial dan waktu, beliau sebenarnya “berpeluang” besar untuk ongkang-ongkang kaki, menghabiskan usia senjanya dengan jalan-jalan, bersenang-senang, atau hal lainnya. Tapi mengapa beliau memilih untuk “menyibukkan diri” dengan mendermakan waktunya untuk pendidikan di Indonesia? Kenapa dia ingin bersusah payah seperti itu? Karena, itu merupakan panggilan hidup.

Si C, 7 tahun, anak jalanan. Sehari-hari C ini merupakan satu dari puluhan ribu anak yang memadati jalanan Jakarta. C merupakan yatim piatu yang sekarang menggantungkan nasibnya kepada dirinya sendiri, tidak bergantung orang lain. Karena (mungkin) tidak neko-neko, C nampak bahagia. Setiap saat dia “menyumbangkan” suaranya kepada para penumpang bus dalam kota Jakarta dengan imbalan beberapa perak Rupiah saja. Sesekali dia berlibur semaunya. Tidur di mana saja. Makan seadanya. Tidak ada yang mengatur. Tidak ada beban. Tidak ada yang digelisahkan. C bebas sebebas-bebasnya.

Apa yang bisa dipetik dari tiga profil nyata di atas? Ya, Anda benar. Setiap orang punya definisi masing-masing dalam memandang kebebasan. Tidak ada definisi pasti sebagaimana halnya rumus Matematika yang rumit – setidaknya bagi saya.

Akhirnya, tugas kita dalam menjalani hidup nan singkat ini adalah menikmati apa yang kita miliki sekarang sepenuh hati. Seperti petuah Ki Ageng Suryomentaram saiki, ing kene, ngene, aku gelem”. Yang kira-kira bermakna: sekarang, di sini, apapun yang terjadi atau yang dihadapi, saya (mau) menerima dengan ikhlas.”

 

Artikel ini dimuat di Pedenesia, 10 Agustus 2017

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
Edit